Monday, May 30, 2022

BOROBUDUR MERUPAKAN PUNCAK KEBUDAYAAN JAWA KUNO


Selamat datang di Kebudayaan Borobudur, salah satu cagar budaya bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.

Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Cagar Budaya yang memiliki nilai luhur dan penting dalam sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata superprioritas. Dibukanya kembali bangunan ini untuk wisata, merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan ini dalam perjalanan wisata tematik Borobudur.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur. Wisata yang menyenangkan dalam mengenal seni arsitektur dan desain, serta rancang bangun pembangunan Candi Borobudur.

Aksara/tulisan yang tertulis pada prasasti-prasasti kerajaan.
Perbandingan antara jenis aksara/tulisan yang tertulis di Relief Karmawibhangga dengan yang tertulis pada prasasti-prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Jelajah Chandi Borobudur

Chandi Borobudur atau namanya disebut Barabudur, merupakan candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama Candi Borobudur, berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat peribadatan umat Buddha atau pura, dan kata 'budur' berasal dari kata Bali 'beduhur'. yang artinya 'di atas' atau 'di atas'. Bukit'. Maka arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.

Selamat Datang di Borobudur
Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide

Kajian terhadap bangunan suci Candi Borobudur sebagai situs cagar budaya, melalui prasasti yang menjadi sumber data tentang keberadaan situs peninggalan purbakala yang bercorak bangunan suci agama Budha. Menjelaskan bahwa Candi Borobudur merupakan situs peninggalan cagar budaya masa Dinasti Syailendra yang dibangun pada abad ke 8 masehi oleh Samaratungga dan sejarah tentang bangunan ini keberadaannya disebutkan dalam dua prasasti yaitu prasasti Karangtengah dan Sri Kahulunan.

Menjelaskan jenis tulisan / aksara yang tertulis di kaki Candi Borobudur sebelah tenggara pada dinding relief Karmawibhangga dengan perbandingan jenis tulisan / aksara yang umumnya digunakan pada prasasti kerajaan pada abad ke-8 dan ke-9.

Borobudur Masa Jawa Kuno

Keberadaan tentang Candi Borobudur, sebagai bangunan suci, merupakan tempat untuk pemujaan bagi penganut agama Buddha Mahayana, menurut sejarah Borobudur dibangun oleh raja Samaratungga pada masa kejayaan dari dinasti Syailendra pada abad VIII M. Borobudur sebagai bangunan suci merupakan monumen terbesar di Indonesia. Banyak ahli sejarah yang mengemukan teori - teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya dan pembangunan Borobudur khususnya pada masa Hindhu dan Buddha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia, mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan beragama dan keberadaan latar belakang kerajaan - kerajaan yang berkuasa di Jawa pada saat itu.

Candi Borobudur sebagai hasil karya masa silam merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno yang berkuasa di Jawa sekitar abad ke-8 - 9 Masehi, keberadaannya telah diketahui dari beberapa prasasti. Prasasti - prasasti Jawa Kuno yang ditemukan pada dasarnya digunakan sebagai materi penjelasan dan narasi sejarah secara umum. Prasasti yang ditemukan biasanya dipahatkan atau ditulis dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, diketahui beberapa prasasti yang ditemukan diantaranya berada di daerah sekitar Borobudur.

Menyebutkan prasasti Jawa Kuna yang ditemukan kurang lebih sekitar kurun waktu abad VI – X Masehi pada periode Mataram Kuna Jawa Tengah, pada umumnya berbahan batu atau logam, dengan bahan yang digunakan tahan lama dan awet. Dalam menjelaskan prasasti atau batu tulis, pada dasarnya mempunyai tiga bagian. Bagian pertama prasasti disebut Sambandha, yaitu bagian prasasti yang berisi tentang penanggalan dan puji - pujian terhadap dewa ataupun raja. Pada bagian kedua prasasti adalah isi, yaitu bagian inti dari prasasti yang berisi tentang maksud dan tujuan dari prasasti tersebut, dan pada umumnya isi prasasti adalah tentang pengukuhan, sawah atau tanah sima, dan juga hal-hal dalam bentuk suatu peradilan. 

Sedangkan pada bagian ketiga adalah penutup, dan bagian ini pada dasarnya berhubungan dalam hal-hal seperti peringatan-peringatan dengan berbagai kutukan, atau tentang suatu pujian kepada raja atau dewa. lpp sejarah dan mengambil prasasti sebagai sumber penjelasan utama, keberadaan prasasti yang ditemukan pada masa periode Mataram Kuno, sebagian besar berbahan yang terbuat dari batu dan pada umumnya ditulis dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Beberapa diantaranya ditulis dalam huruf Palawa dan berbahasa Melayu Kuno.

Berdasarkan dokumen sejarah prasasti di Jawa pada masa Mataram Kuno menyebutkan beberapa prasasti yang ditemukan, salah satunya adalah prasasti Rukam. Prasasti ini berisi tentang pemberian perintah dengan menyebutkan desa Rukam, adalah bagian dari desa wilayah Dalam, yang telah hancur dan rusak karena bahaya besar, adalah desa yang merupakan bagian dari tanah Perdikan yang dikhususkan dan diberikan untuk satu bangunan suci yang berada di wilayah tersebut.

Dalam dokumen sejarah kerajaan Mataram Kuno yang berada di Jawa menyebutkan tentang prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto kurang lebih dibuat pada akhir abad 7 Masehi, menyebutkan prasasti ini ditulis dalam huruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuna. Prasasti ini berisi tentang menjelaskan dan menyebutkan tentang keberadaan sisilah dari keluarga Dapunta Sailendra yang merupakan cikal bakal dari Wangsa Sailendra yang berkuasa di Jawa. Prasasti ini berangka tahun 860 Masehi. Raja Sangkhara mulai banyak membangun bangunan - bangunan suci Buddha, terutama berada di wilayah Prambanan, yaitu Candi Kalasan pada tahun 778 Masehi, Candi Sewu tahun 782 Masehi, dan Candi Boko tahun 792 Masehi, serta pada peletakan dasar pembangunan Borobudur pada tahun 775 Masehi.

Narasi Sejarah Mataram Kuno Jawa Tengah menyebutkan dalam beberapa prasasti yang menjelaskan tentang nama tempat dan pendirian bangunan suci juga ditemukan, seperti pada prasasti Tukmas berangka tahun 700 Masehi. Prasasti ini ditulis dalam huruf Pallawa Muda, dan berbahasa Sanskerta. Berisi tentang sumber air yang jernih berkilauan seperti emas. Prasasti ini bercorak Hindhu. Pada prasasti Canggal menjelaskan prasasti ini berbahasa Sanskerta, dan berhuruf pallawa dan angka tahun dalam prasasti ini menyatakan tahun 654 Saka. Prasasti Canggal tahun 732 M berisi tentang pendirian Lingga oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya sebagai raja pertama kerajaan yang berpusat di Medang. Memberitahukan tentang kehidupan yang tentram dan sejahtera di Jawa pada saat itu.

Prasasti Canggal tahun 732 Masehi mempunyai isi tentang menyebutkan adanya pulau mulia yang bernama Jawa. Dijelaskan bahwa pulau Jawa adalah pulau yang tak ada bandingannya tentang hasil buminya terutama hasil padi, dan kaya akan tambang emas yang semata- mata diakui adalah tempat yang dimiliki oleh para dewa, dan pulau yang penuh dengan tempat-tempat pemujaan suci, yang bertujuan untuk keselamatan dan kemakmuran bagi dunia.

Salah satu episode sejarah Asia Tenggara Kuno yang paling dikenal adalah menyebutkan bagaimana raja Kamboja, Jayawarman II yang kembali dari Jawa. Kemudian dalam upaya untuk membebaskan negaranya pada saat itu mendirikan tempat pemujaan dengan nama Devarāja, setelah itu menyatakan bahwa dirinya sebagai Raja Dunia, tempat itu berada Gunung Mahendra Parwata pada tahun 802 Masehi. Keterangan ini menurut prasasti Sdok Kok Thom, tahun 1052 Masehi. Sejarah menjelaskan bahwa Jayawarman II adalah seorang pangeran yang tinggal di Kerajaan Sailendra di Jawa dan membawa kembali ke seni dan budaya Sailendran Jawa ke Kamboja.

Dalam prasasti Sdok Kok Thom dan Vatt Samrong menyebutkan sebagai usaha dalam mempertahankan wilayahnya dari serangan Raja Jawa, maka mereka mempraktekkan ritual - ritual dan mengadakan peribadatan dan perbaikan kuil yang telah rusak. Menjelaskan tentang Rakai Warak, menurut silsilah raja-raja Jawa dikenal sebagai Samaratungga yaitu anak dari Rakai Panunggalan yang merupakan raja keempat Kerajaan Mataram Kuna pada periode Jawa Tengah. Rakai Panunggalan mempunyai dua anak, Samaratungga dan Balaputradewa. Menyebutkan bahwa Samaratungga mempunyai seorang anak, yang bernama Pramodhawardhani yang kemudian terlibat dalam perebutan kekuasaan dengan Balaputradewa, dan saat itu Pramodhawardhani sudah menjadi permaisuri dari Rakai Pikatan.

Prasasti Borobudur

Prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan 842 M
Menurut penjelasan dalam Prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan tahun 842 M, bahwa Sri Kahulunan disebutkan ialah Pramodawardhani yang memberikan dan menganugerahkan tanah perdikan untuk pemeliharaan bangunan suci yang bernama Kamul ni Bhumi Sambhara atau berarti melambangkan tempat berkumpulnya semua kebajikan umat Buddha yang disebut dengan nama da avidham yaitu bangunan suci bertingkat atau berlapis 10, yaitu Borobudur. Dalam menjelaskan isi yang dituliskan pada prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan berangka tahun 842 M. Bahwa prasasti ini di keluarkan oleh Sri Kahulunan, yang menurut De Casparis diyakini sebagai Pramodawardhani, yaitu puteri dari Samaratungga yang disebutkan secara samar-samar dalam prasasti Karangtengah. Pada prasasti tersebut Pramodawardhani bergelar Sri Kahulunan, pendapat ini menurut Soekmono, Poesponegoro dan Notosusanto.

Prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan tahun 842 Masehi berisi tentang penganugerahan dan penetapan desa Tri i Tpusan menjadi sima atau tanah perdikan bagi nama tempat yang disebut Kamulan di Bhumisambhara. Prasasti ini juga menyebutkan tentang perintah Sri Kahulunan dalam pemberian batas-batas tanah yang menjadi sima tersebut.

Prasasti Sri Kahulunan
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Prasasti Karangtengah/Kayuwungunan 824 M
Borobudur disebutkan juga dalam prasasti Karangtengah/Kayuwungunan. Menjelaskan dalam narasi sejarah, prasasti ini ditemukan di Dusun Karangtengah. Prasasti Karangtengah terdiri dari dua bagian, bagian pertama tersusun dalam Bahasa Sanskertaian dan bagian kedua dalam bahasa Jawa Kuna, tetapi pada baris terakhir belum berupa penutup, karena tidak diketahui kelanjutan dari isi prasasti tersebut, bagian batu yang patah di bagian bawah telah hilang.

Bagian pertama prasasti yang berbahasa Sanskerta berisi hal yang menjelaskan keterangan tentang Samaratungga, yaitu sebagai permata Wangsa Sailendra, dan menyebutkan putrinya bernama Pramodawardhani, yang telah berjasa dalam mendirikan candi agama Buddha. Keterangan dari prasasti tersebut berangka tahun 824 Masehi, sehingga hal ini berhubungan erat dengan didirikannya satu arca yang kemungkinan dari perunggu, karena diceritakan bersinar seperti bagian dari bulan, didalam satu kuil yang diperuntukan untuk arca tersebut. Selanjutnya dalam prasasti itu juga dicantumkan harapan bagi yang telah berjasa dalam mendirikan candi agama Buddha, untuk mendapatkan pahala dalam mencapai kesugatan yang ke sepuluh yaitu menjadi Buddha. Bagian penutupnya berupa seruan agar para keturunannya menyelamatkan untuk kelangsungan bangunan suci ini.

Bagian kedua prasasti yang berbahasa Jawa Kuna dengan angka tahun 824 Masehi berisi tentang penetapan hibah, yang berupa sejumlah sawah sima atau perdikan, yang diperuntukkan guna kelangsungan bangunan suci, dengan disertai perincian tanah-tanah tersebut. Bagian akhir penutup dari prasasti ini telah hilang sehingga kata-kata terakhir tidak banyak diketahui.

Sementara itu berhubungan dengan pendirian arca dari perunggu dalam kuil, menurut De Casparis berpendapat bahwa didirikannya arca tersebut, mempunyai arti tidak lain adalah dipatungkannya raja Indra yang telah wafat dan dimakamkan abu jenazahnya dalam candi yang diperuntukkan khusus baginya. Raja Indra adalah raja dari dinasti Sailendra yang menerbitkan prasasti Kelurak tahun 782 M. Menurut De Casparis, prasasti Kayumwungan ini bertujuan untuk memperingati tentang pendirian dan pembangunan beberapa candi seperti candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut oleh Samaratungga.


Chandi Borobudur
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Melangkah di Borobudur 

Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.

Lansekap Pedesaan
lansekap pedesaan Jawa Kuno meliputi beberapa cakupan yang lebih kepada daerah tempat berada pada lingkungan pertanian / pengelolaan lahan. Pada candi Borobudur terdapat panil relief cerita mengenai relief pertanian, pada dinding Candi Borobudur. Sumber: Balai Konservasi Borobudur, Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide, Foto screenshot arisguide.

Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PAMONG CARITA.

Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.



Sunday, May 15, 2022

SEJARAH CHANDI BOROBUDUR


Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan penting dalam sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Dibukanya kembali bangunan ini untuk wisata, merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan ini dalam perjalanan wisata tematik Borobudur.

Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan untuk lebih mengenal lebih dekat Borobudur dalam belajar mengetahui sejarah, berwisata tematik dan mengagumi kemegahan serta keindahan nilai seni arsitektur, yang merupakan salah satu wujud apresiasi dalam pembelajaran dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia yang berada di Borobudur Indonesia.

Hal ini merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk mendalami budaya leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar mengetahui sejarah prasasti Chandi Borobudur.

Chandi Borobudur
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar berisi stupa-stupa dan sebuah stupa induk pada teras teratas, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur

Menyebutkan Borobudur atau biasa disebut Barabudur, candi suci umat Buddha. Nama Candi Borobudur berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' yang berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari kata Bali 'beduhur' yang artinya 'di atas' atau 'bukit'. Sehingga arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Borobudur merupakan candi Buddha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, serta terdapat stupa terbesar di tengahnya, yang dikelilingi oleh 72 stupa yang saling bertautan, serta dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.

Candi Budha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Budha Jawa yang memadukan budaya pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana.

Berdasarkan perbandingan antara jenis aksara / tulisan yang tertulis di kaki tersembunyi pada dinding relief Karmawibhangga, dengan jenis aksara / tulisan yang umum digunakan dalam penulisan pada batu tulis atau prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9. Hal ini sesuai dengan kurun waktu yang menjelaskan antara 760 dan 830 Masehi, saat itu merupakan masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang pada saat itu dipengaruhi oleh Kerajaan Sriwijaya. Dalam pembangunan Candi Borobudur kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 75 - 100 tahun, dan bangunan suci tersebut diselesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 824 Masehi.

Prasasti Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi Budha Mahayana peninggalan Kerajaan Mataram yang menguasai Pulau Jawa pada abad VIII – X Masehi yang dibangun oleh Dinasti Syailendra. Sejarah Candi Borobudur dapat diketahui dari ditemukannya prasasti, yaitu prasasti Karangtengah / Kayuwungunan dan prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan.

Prasasti Karangtengah / Kayuwungunan
Menjelaskan prasasti Karangtengah / Kayuwungunan, bahwa prasasti ini keberadaannya ditemukan di Dusun Karangtengah. Prasasti ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian pertama terdiri dari beberapa baris yang disusun dalam bahasa Sansekerta dan bagian kedua disusun dalam bahasa Jawa Kuno dan terdiri dari beberapa baris, namun baris terakhir bukan merupakan kesimpulan, karena kelanjutan isi prasasti tidak diketahui. Dalam hal ini, ada bagian batu yang pecah di bagian bawah yang hilang.

Prasasti bagian pertama berbahasa Sansekerta memuat informasi tentang Samaratungga, yaitu sebagai permata dinasti Sailendra, dan menyebutkan putrinya, Pramodawardhani, yang berjasa mendirikan candi Budha tersebut. Dalam prasasti ini tertulis angka tahun 824 Masehi, angka tahun ini erat kaitannya dengan didirikannya patung yang kemungkinan besar terbuat dari logam, karena konon bersinar seperti bagian bulan pada bangunan suci.

Lebih lanjut, prasasti tersebut memuat harapan agar mereka yang telah berkontribusi dalam pembangunan candi Buddha akan mendapat pahala dalam mencapai tingkat kesepuluh, yaitu menjadi Buddha. Kesimpulannya adalah seruan kepada keturunannya untuk menyelamatkan bangunan suci tersebut.

Prasasti bagian kedua dalam bahasa Jawa Kuno bernomor tahun 824 M memuat penetapan hibah berupa sejumlah sawah sima yang diperuntukkan sebagai tempat kelanjutan bangunan suci, dan disertai rincian tanah dan daftar saksi-saksi serta hadiah-hadiah bagi para saksi. Bagian penutup prasasti ini telah hilang sehingga tidak diketahui kata-kata terakhir mengenai perintah Rakai Patapan.

Terkait dengan pendirian patung tersebut, De Casparis berpendapat bahwa pendirian patung tersebut tidak lain adalah patung Raja Indra yang telah meninggal dunia dan menguburkan abunya di sebuah kuil yang khusus diperuntukkan baginya. Raja Indra merupakan raja dari dinasti Syailendra yang menerbitkan prasasti Kelurak pada tahun 782 Masehi. Menurut De Casparis, prasasti Kayumwungan bertujuan untuk mengenang berdirinya dan dibangunnya beberapa candi seperti candi Borobudur, candi Pawon, dan candi Mendut oleh Samaratungga.

Prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan
Menjelaskan apa yang tertulis pada prasasti Tri Tepusan/Sri Kahulunan bertanggal 842 Masehi. Bahwa prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Kahulunan yang menurut De Casparis diyakini adalah Pramodawardhani yaitu putri Samaratungga yang disebutkan secara samar-samar dalam prasasti Karangtengah. Dalam prasasti tersebut Pramodawardhani bergelar Sri Kahulunan, pendapat tersebut menurut Soekmono, Poesponegoro dan Notosusanto.

Prasasti tersebut memuat penyebutan desa Tri i Tpusan sebagai Sima Kamulan di Bhumisambhara yang terdiri dari persawahan, dan prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Kahulunan memberi perintah kepada beberapa pejabat untuk menentukan batas-batas sima tersebut.

Menurut De Casparis, pendapatnya tersebut berdasarkan pada prasasti Kahulunan yang menjelaskan secara rinci bahwa nama Kamulan i Bhumisambhara sebenarnya dapat diidentifikasikan sebagai bangunan candi Borobudur yang dianggapnya sebagai candi tempat pemujaan cikal bakal dinasti Sailendra. Menurut De Casparis, menjelaskan bahwa yang dilakukan Sri Kahulunan sebenarnya bukan membangun candi Borobudur, melainkan menghibahkan tanahnya untuk kepentingan dan kelangsungan dari bangunan tersebut. Hal ini telah menunjukkan bahwa bangunan tersebut pada tahun 842 M, yaitu Candi Borobudur didirikan.

Catatan Sejarah Borobudur

Terdapat beberapa pendapat tentang fakta mengenai raja yang berkuasa di Jawa pada saat itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra sendiri diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, hal ini melalui temuan pada prasasti Sojomerto yang menunjukkan bahwa kemungkinan awalnya beragama Hindu Siwa. Pada kurun waktu itu telah banyak dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.

Berdasarkan Prasasti Canggal, yang berangka tahun 732 M, raja beragama Siwa yaitu Sanjaya telah memerintahkan dalam pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 kilometer sebelah timur dari bangunan Borobudur. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang berada di Dataran Prambanan, meskipun narasi sejarah demikian bangunan Candi Borobudur diperkirakan selesai sekitar 824 M.

Pembangunan candi-candi Buddha, dalam hal ini termasuk Borobudur pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran telah memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi dengan tujuan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran juga menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha / komunitas Buddha, untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dan tertulis dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.

Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja membantu dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa, kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko pada akhirnya.

Ketidakjelasan juga timbul mengenai Candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

Nama Borobudur

Menjelaskan keberadaan asal nama Borobudur tidak begitu jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang member petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.

Raffles, berdasarkan cerita penduduk desa di sekitar Borobudur, Borobudur berasal dari kata boro dan budur. Budur artinya ‘purba’ sehingga, borobudur dapat diartikan ‘boro purba’. Raffles sendiri menyebutkan Borobudur berasal dari kata boro yang artinya ‘agung’ dan budur berasal dari kata buddha. Jadi, arti Borobudur adalah ‘Buddha yang Agung’.

Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore ( Boro ); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba" maka bermakna, "Boro purba".

Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. R.M. Ng. Poerbatjaraka menerjemahkan boro dengan ‘biara’. Pendapat itu didasarkan atas adanya nama tempat yang diawali dengan kata boro, yaitu Boro kidul yang artinya ‘Biara di Selatan’, kemudian Stutterheim menambahkannya menjadi Boro siḍěngan. Baik Boro-kidul maupun Boro siḍěngan agak jauh letaknya dari Borobudur.

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng -lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.

Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam menjelaskan nama untuk bangunan ini berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan bahwa pendiri Candi Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra yang bernama Samaratungga sekitar tahun 824 M. Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya yang bernama Ratu Pramudawardhani, dan Borobudur dibangun diperkirakan membutuhkan waktu setengah abad.

Dalam prasasti Karangtengah disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan yang disebut dengan nama Bhūmisambhāra. Istilah Kamulan sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.

Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut - Stupa dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad abad bangunan suci ini sempat terlupakan. Borobudur di tengah kehijauan alam dataran Kedu. Diduga dulu kawasan di sekeliling Borobudur adalah danau purba.

Menurut Titi Surti Nastiti berpendapat bahwa Borobudur berarti ‘biara di daerah Budur’. Boro artinya ‘biara’, yang dapat dibuktikan dengan ditemukannya sisa-sisa bangunan yang berupa struktur bata di sekitar Borobudur dan temuan arkeologis lainnya yang menunjang suatu kegiatan untuk pemujaan agama Buddha, seperti mangkuk, genta, dan stūpika. Kata buḍur adalah nama tumbuhan sejenis palem, yang mungkin dahulu banyak tumbuh di daerah itu, yang kemudian dijadikan nama tempat.

TEORI PEMBANGUNAN BOROBUDUR MENURUT DUMARCAY

Tahap I
Dibangun sekitar abad 780 Masehi. Pada tahap pertama berupa tiga tingkat struktur teras kecil yang didirikan di atas struktur lain, yang kemudian tidak stabil dan rusak. Struktur ini mengindikasikan dalam bentuk piramid. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Tahap II
Terlihat adanya perluasan pondasi Candi Borobudur dan penambahan beberapa teras yang semakin ke atas semakin kecil. Pada tahap ini dibangun sebuah stupa besar pada puncak yang dikelilingi oleh pagar berbentuk lingkaran. Sumber: Balai Konservasi Borobudur

Tahap III
Perubahan pada bagian puncak menjadi tiga buah teras lingkaran berisi stupa-stupa teras dan sebuah stupa induk pada teras teratas. Sumber: Balai Konservasi Borobudur

Tahap IV dan V
Ada sedikit perubahan pada bangunan candi, termasuk penambahan dan perubahan pada relief baru dan pada lorong dan pagar langkan. Walaupun demikian, simbol-simbol yang ada dalam bangunan candi tidak berubah. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Sejarah Chandi Borobudur 

Menjelajahi sejarah bangunan suci Borobudur ditinggalkan akibat letusan beberapa gunung berapi, dan diduga menjadi faktor utama penyebab kerajaan berpindah ke Jawa Timur. Namun kapan Candi Borobudur ditinggalkan dan tidak digunakan lagi, belum dapat diketahui secara pasti.

Candi Borobudur sempat terbengkalai dan tidak digunakan lagi oleh umat Buddha, serta tertimbun lapisan tanah dan abu vulkanik, sehingga saat itu candi Budha Borobudur berada di dalam bukit. Alasan sebenarnya dari penelantaran tersebut masih belum diketahui secara pasti sejak kapan bangunan suci ini tidak lagi menjadi pusat keagamaan Buddha. Menurut narasi sejarah Jawa kuno, dalam kurun waktu antara tahun 928 hingga 1006, Raja Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Medang ke wilayah Jawa Timur setelah beberapa kali terjadi letusan gunung berapi, meski beberapa sumber menduga besar kemungkinan Borobudur mulai ditinggalkan. pada masa ini.

Soekmono menjelaskan pada masa pemerintahan Mataram Hindu, banyak terjadi ketidakpastian dan masyarakat mengalami berbagai kesulitan. Kekuasaan Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah membangun bangunan suci keagamaan yang besar, dan megah, akan tetapi melemahkan tenaga dan penghasilan rakyat, karena mengutamakan kebesaran raja telah menekan kehidupan rakyat. Pindahnya pusat kerajaan Mataram Kuna dari Jawa Tengah ke Jawa Timur berakibat bangunan pemujaan seperti Candi Borobudur tidak digunakan lagi karena ditinggalkan penganutnya. Keberadaan Candi Borobudur menghilang tidak tercatat dalam sejarah selama hampir 800 tahun sampai akhirnya ditemukan kembali.

Bangunan suci Borobudur mulai disebut-sebut sekitar tahun 1365, oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Nagarakretagama, yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit, yang menyebutkan adanya "Candi di Budur". Selain itu, Soekmono (1976) juga mengatakan bahwa candi ini benar-benar ditinggalkan sejak penduduk setempat masuk Islam pada abad ke-15. Candi Borobudur melalui cerita rakyat sebagai bukti kejayaan masa lalu menjadi cerita takhayul yang dikaitkan dengan kemalangan dan penderitaan.

Dua buku Babad Tanah Jawa (Sejarah Pulau Jawa) yang ditulis abad ke-18 menyebutkan nasib buruk, tentang bangunan Borobudur. Menurut Babad Tanah Jawi, menjelaskan nasib buruk dan kemalangan terjadi pada masa Mataram pada tahun 1709 dalam bukit Borobudur. Dalam Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram), kesialan dan kemalangan terjadi dalam kepercayaan takhayul yang dikaitkan dengan arca buddha yang terdapat di dalam stupa berterawang, dengan tujuan dalam mengunjungi candi ini pada tahun 1757.

Borobudur ditinggalkan

Kapan Candi Borobudur ditinggalkan dan tidak digunakan lagi belum dapat diketahui secara pasti. Menurut sejarah, penjelasan tersebut mungkin ada kaitannya dengan berpindahnya kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur dan meletusnya Gunung Merapi diduga menjadi penyebab Borobudur terbengkalai dan ditinggalkan.

Pendapat beberapa ahli sejarah mengenai bangunan suci Chandi Borobudur yang ditinggalkan dan terbengkalai selama beberapa abad diungkapkan oleh Boehari yang mempunyai pendapat yang sama bahwa penyebab perpindahan ibu kota kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur lebih dilatarbelakangi oleh faktor geografis berupa letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat pada akhir abad ke 10 Masehi. Faktanya, bangunan candi di selatan Gunung Merapi banyak yang tertimbun material pegunungan yang sangat tebal, bahkan hingga saat ini Gunung Merapi masih sangat aktif mengeluarkan material piroklastik yang sangat menakutkan.

Dilihat dari letak Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Jawa Tengah, pendapat di atas sangat mungkin terjadi, mengingat secara geografis terletak di sekitar beberapa gunung vulkanik antara lain Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing. Letak geografis tersebut menimbulkan ancaman berupa aktivitas gunung berapi yang mengancam kehidupan masyarakat saat itu. Aktivitas vulkanik berupa letusan gunung berapi tidak terjadi di Gunung Merapi tetapi juga di gunung-gunung lain di sekitar Gunung Merapi. Hal ini terjadi di Situs Liyangan yang merupakan situs pemukiman pada masa Mataram Kuno, diketahui pada telah terkubur material abu vulkanik Gunung Sindoro pada saat masih aktif.

Menurut Munoz, kekuasaan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah berpindah ke Jawa Timur karena adanya kebutuhan untuk mencari wilayah baru karena kondisi kehidupan di Jawa Tengah semakin buruk karena kehidupan perekonomian yang menurun akibat aktivitas gunung berapi yang meningkat.

Sementara itu, B. Schrieke berpendapat, alasan pemindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur karena masyarakat Jawa Tengah merasa memikul beban yang sangat berat karena diharuskan membangun monumen keagamaan yang besar dan megah seperti Candi Borobudur. Pembangunan monumen keagamaan yang megah dan mewah sangat memberatkan dan menyita banyak tenaga umat Hindu di Mataram Jawa Tengah, akibatnya masyarakat meninggalkan pekerjaan seperti bertani, berdagang dan aktivitas lainnya sehingga mengakibatkan terjadinya migrasi massal ke Jawa Timur. Schrieke, menjelaskan bahwa di wilayah Jawa Timur terdapat daya tarik delta sebagian besar sungai yang dinilai memiliki daya tarik dari segi ekonomi, terutama sebagai pintu gerbang perdagangan internasional.

Menurut Soekmono, ia menyatakan bahwa pada masa itu, sebagian besar masyarakat Mataram yang beragama Hindu mengalami berbagai kesulitan. Kekuasaan Sanjaya dan Syailendra di Jawa Tengah banyak melahirkan bangunan suci keagamaan yang semuanya megah dan mewah, namun sebaliknya sangat melemahkan tenaga dan pendapatan pertanian masyarakat. Upaya yang mengutamakan kebesaran raja dengan membangun bangunan keagamaan justru berdampak pada menekan kehidupan masyarakat. Perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur menyebabkan bangunan pemujaan yang dibangun seperti Candi Borobudur tidak dapat digunakan lagi karena ditinggalkan penganutnya. Keberadaan Candi Borobudur hilang dan tidak tercatat dalam sejarah selama hampir 800 tahun hingga akhirnya ditemukan kembali.

Penemuan Borobudur

Setelah terisolasi selama beberapa abad, Borobudur mulai bermunculan pada tahun 1811 hingga 1816, ketika Thomas Stamford Raffles diangkat menjadi Gubernur Jenderal. Raffles memiliki ketertarikan khusus pada sejarah Jawa dan mengoleksi artefak seni antik dari masa Jawa kuno serta membuat catatan tentang sejarah dan budaya Jawa yang ia kumpulkan dari pertemuannya dengan masyarakat lokal dalam perjalanannya keliling Pulau Jawa.

Pada kunjungan inspeksinya ke Semarang pada tahun 1814, ia diberitahu adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Karena ketidakhadiran dan tugasnya, dia tidak bisa pergi sendiri untuk mencari gedung tersebut dan mengirim H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, menyelidiki keberadaan bangunan besar ini. Dalam waktu dua bulan, Cornelius dan warga sekitar mulai membuka Borobudur dengan menebang pohon dan semak yang tumbuh di atas bukit serta membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Karena ancaman tanah longsor, dia tidak bisa menggali dan membersihkan semua lorong. Ia melaporkan temuannya kepada Raffles, termasuk menyerahkan berbagai sketsa Candi Borobudur. Raffles berjasa menemukan kembali monumen yang pernah hilang itu.

Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Karesidenan Kedu, melanjutkan pekerjaan Cornelius dan pada tahun 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah digali dan terlihat. Ketertarikannya terhadap Borobudur lebih bersifat pribadi dibandingkan tugas pekerjaannya. Hartmann tidak menulis laporan mengenai aktivitasnya; khususnya, beredar rumor bahwa ia telah menemukan patung Buddha besar di stupa utama. Pada tahun 1842, Hartmann menyelidiki stupa induk meskipun apa yang ditemukannya masih menjadi misteri karena bagian dalam stupa tersebut kosong. Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur Belanda di bidang teknik, mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. JFG Brumund juga ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih detail terhadap monumen tersebut, yang diselesaikannya pada tahun 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund disertai sketsa Wilsen, namun Brumund menolak bekerja sama.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, untuk menyusun monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada tahun 1873, monografi pertama dan kajian lebih rinci tentang Borobudur diterbitkan, disusul edisi terjemahan dalam bahasa Prancis setahun kemudian.

Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh ahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.

Apresiasi terhadap situs ini tumbuh perlahan. Sejak lama, Borobudur telah banyak dijadikan sebagai sumber oleh-oleh. Kepala patung Buddha merupakan bagian yang paling banyak hilang. Itu sebabnya kini banyak ditemukan patung Budha tanpa kepala di Borobudur. Maka muncullah ide pada tahun 1882, kepala pemeriksa artefak budaya menyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museum karena kondisi tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang merajalela di monumen ini.

Ada usulan untuk membongkar seluruh bangunan candi dan memindahkan reliefnya ke museum mengingat kondisi candi sudah terlalu rusak dan memprihatinkan. Usulan ini tidak langsung mendapat tanggapan, namun memunculkan pemikiran mengenai upaya penyelamatan candi dari bahaya runtuh atau hancur. Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap situs tersebut dan mempertimbangkan kondisi sebenarnya dari kompleks tersebut; Laporan tersebut menyatakan kekhawatiran tersebut berlebihan dan menyarankan agar bangunan tersebut dibiarkan utuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.

Sejarah menyebutkan, bagian candi seperti arca dan ukiran di situs bersejarah ini telah hilang. Salah satunya menyatakan bahwa pada tahun 1896, ia menduga ada kelompok yang pernah berkunjung ke Jawa dan berada di Borobudur pada masa Hindia Belanda, menyatakan minat untuk memiliki sebagian Borobudur. Hal ini berdampak pada bangunan ini, beberapa bagian Borobudur telah hilang seperti 30 pahatan relief batu, 5 buah arca Budha, 2 buah patung singa, 1 buah air mancur makara, sejumlah kepala Kala dari tangga dan gapura, serta sebuah patung raksasa. (dwarapala) yang Sangat istimewa dari bukit Dagi di barat laut candi.

Penemuan lain yang sangat penting terjadi pada tahun 1885, ketika J.W. Ijzerman melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap keberadaan monumen ini. Dalam penyelidikannya, IJzerman menemukan sebuah relief di belakang kaki candi pada keempat sisi candi yang sering disebut Kaki Tersembunyi. Kaki candi ini dibongkar sebagian demi keperluan fotografi lalu ditutup kembali. Relief yang berada di belakang kaki candi ini sebagian tidak ditutupi atau dipajang sebagian di sudut tenggara sepanjang dua panel yang menghadap ke selatan.

Pada tahun 1900 dibentuk suatu panitia yang mempunyai tugas khusus melaksanakan perencanaan penyelamatan Candi Borobudur. Setelah dua tahun pengerjaan, disimpulkan perlunya penyelamatan Candi Borobudur. Pada tahun 1905, Pemerintah Belanda menyetujui pemugaran candi Borobudur yang dipimpin oleh T. Van Erp. Pemugaran dilakukan pada tahun 1907 – 1911.

Chandi Borobudur
Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Berada di Borobudur

Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Wisata mengenal Borobudur lebih dekat dengan mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan bentuk apresiasi belajar dan turut serta menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia Borobudur, Indonesia.

Pemandangan bukit Menoreh dan stupa Borobudur

Keindahan pemandangan bukit Menoreh dari teras-teras barisan stupa, adalah legenda Gunadharma tentang perbukitan Menoreh, cerita arsitek Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Ini adalah kesempatan menyenangkan untuk mengeksplorasi budaya leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar tentang arsitektur Borobudur.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur - Wisata dengan Pamong Carita.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.


BOROBUDUR MERUPAKAN PUNCAK KEBUDAYAAN JAWA KUNO

S elamat datang di Kebudayaan Borobudur, salah satu cagar budaya bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan da...