Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai destinasi wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari salah satu situs warisan dunia sejak tahun 1991.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki makna luhur dan bersejarah bagi bangsa Indonesia, sehingga membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Dibukanya kembali gedung ini untuk pariwisata menjadi kesempatan menyenangkan untuk menggali beberapa sumber narasi tentang keberadaan gedung ini dalam wisata tematik Borobudur.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan untuk lebih mengenal lebih dekat Borobudur dalam belajar mengetahui sejarah, berwisata tematik dan mengagumi kemegahan serta keindahan nilai seni arsitektur, yang merupakan salah satu wujud apresiasi dalam pembelajaran dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia yang berada di Borobudur Indonesia.
Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan mengantar dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai apresiasi untuk pembelajaran dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur. Pada kesempatan yang menyenangkan menjelajahi kebudayaan leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar mengetahui lansekap budaya Borobudur.
Lansekap berkaitan dengan suatu pemandangan yang diartikan dalam beberapa penjelasan, yaitu gambar yang menggambarkan pemandangan alam atau suatu aliran dalam lukisan, dan segala sesuatu yang tampak jika kita memandang pada suatu wilayah yang luas, terutama di pedesaan.
Dalam arti lain, kata lanskap adalah bentuk lahan dan ciri-ciri terkait di suatu wilayah tertentu. Pemandangan awalnya digunakan untuk merujuk pada makna perspektif lukisan yang menggambarkan suatu pemandangan di atas kanvas. Bentang alam dalam Geografi diartikan sebagai bagian permukaan bumi yang terdiri dari berbagai bentukan geografis seperti bentuk lahan yang menjadi ciri khas suatu daerah. Bentang alam alam pada umumnya tidak dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan terbentuk secara alami dengan ciri-ciri khusus pada permukaan bumi.
Berada di Borobudur
Menjelaskan Borobudur atau namanya disebut-sebut Barabudur, adalah candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.
Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
Lansekap alam atau bentang alam pada umumnya tidak terpengaruh oleh aktivitas manusia dan terbentuk secara alami dengan ciri-ciri khusus pada permukaan bumi. Lanskap alam merupakan konfigurasi antara hasil karya manusia dan sumber daya alam sebagai perwujudan budaya yang mempunyai karakter khusus yang dihasilkan dari ekspresi pemikiran, pilihan, atau acuan dalam perilaku manusia. Dalam hal ini bentang alam menggambarkan hubungan jangka panjang antara manusia dan lingkungan alamnya. Lanskap alam dapat mencerminkan suatu teknik dalam penggunaan lahan tertentu yang berperan menjamin dan memelihara keanekaragaman hayati. Pemandangan alam juga dapat erat kaitannya dengan pemikiran, kepercayaan, seni, adat istiadat dan hubungan spiritual yang kuat antara manusia dan alam. Bentang alam mempunyai nilai penting dalam kehidupan manusia.
Menyebutkan lanskap perdesaan Jawa Kuno yang meliputi beberapa wilayah, maka lanskap pedesaan pada masa Jawa Kuno di kawasan Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut meliputi wilayah sebagai berikut: pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah adat, pembuatan gerabah, dan bekas danau kuno.
| Lansekap Pedesaan Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Bentang alam perdesaan pada masa Jawa Kuna di kawasan Borobudur mempunyai kriteria dengan ciri-ciri masyarakat pedesaan pada masa Jawa Kuna meliputi beberapa wilayah yang lebih spesifik pada wilayah tempat lingkungan pertanian / pengelolaan lahan berada. Pada Candi Borobudur terdapat panel-panel relief yang menceritakan tentang relief pertanian, relief tersebut dipahat pada dinding maupun pada lorong-lorong dan pagar langkan.
Pada Candi Borobudur terdapat panel-panel relief cerita mengenai relief yang dipahat pada dinding dan pada selasar serta langkan yang disebut dengan relief cerita. Relief cerita merupakan pengalihan naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni konkrit. Karena dimaksudkan sebagai gambaran suatu cerita, maka dalam relief tersebut terdapat susunan bentuk-bentuk tertentu yang mana seniman berusaha sedapat mungkin merefleksikan keadaan dan peristiwa yang terjadi dalam cerita yang bersangkutan.
Sebagai gambaran sebuah cerita, pada relief terdapat susunan bentuk-bentuk tertentu yang mana seniman berusaha sedapat mungkin merefleksikan keadaan dan peristiwa yang terjadi dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu, dalam relief, penampakan tubuh tokoh-tokoh yang disebutkan dalam cerita beserta bentuk-bentuk tertentu seperti bentuk rumah, pohon, sungai, dan lain sebagainya merupakan petunjuk mengenai situasi dan kondisi tempat terjadinya suatu peristiwa atau aktifitas yang diharapkan.
Pemandangan masyarakat pedesaan pada masa Jawa Kuno di kawasan Borobudur menjelaskan dengan atribut yang berada dalam lingkup kawasan di lingkungan pertanian. Merupakan sebagai gambaran suatu cerita, pada reliefnya terdapat bentuk-bentuk yang mencerminkan keadaan dan peristiwa dalam cerita yang bersangkutan seperti kegiatan dalam mengolah pertanian membajak sawah, menanam pohon dan mengolah hasil panen. Oleh karena itu, dalam relief, penampakan tubuh tokoh-tokoh yang disebutkan dalam cerita beserta bentuk-bentuk tertentu seperti bentuk rumah, pohon, sungai, dan lain sebagainya merupakan petunjuk mengenai situasi dan kondisi tempat terjadinya suatu peristiwa. terjadi yang diharapkan.
| Salah satu relief tentang pertanian. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Bentang alam pedesaan pada masa Jawa Kuna di kawasan Borobudur yang meliputi kawasan: pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah adat, salah satu yang dapat disebutkan adalah dalam pengolahan minuman, seperti dalam contoh adalah pengolahan minuman yang berasal dari tanaman tebu, yang dikenal juga oleh masyarakat Jawa Kuno sebagai bahan dasar dalam pembuatan minuman beralkohol yang disebut tvak, siddhū. Siddhū atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada acara-acara tertentu seperti dalam upacara pengukuhan sima, antara lain yang disebutkan dalam Prasasti Sangguran (928 M).
| Salah satu ukiran bentuk rumah pedesaan Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pemandangan alam pedesaan pada masa Jawa Kuno di kawasan Borobudur yang meliputi wilayah: pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah adat, yang salah satunya dapat disebutkan dalam penggambaran relief dalam cerita pembangunan rumah adalah bagaimana masyarakat berbondong-bondong membangun sebuah bangunan yang menggunakan bahan dari kayu. Ada yang membawa pasir, menaiki tangga, membawa barang, hingga memotong kayu. Berdasarkan data prasasti, orang-orang yang berprofesi membuat bangunan di antaranya, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang.
| Salah satu ilustrasi desain rumah Jawa Kuno Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pemandangan pedesaan pada masa Jawa Kuna di kawasan Borobudur yang meliputi kawasan pemukiman dan rumah adat dapat disebutkan salah satunya pada penggambaran relief konstruksi rumah berdasarkan data prasasti, rumah pedesaan Borobudur termasuk dalam bentuk bangunan berupa pemukiman adat dan rumah adat. Dengan kehidupan di lingkungan perumahan para pembuat gerabah seperti di Desa Nglipoh, Karanganyar.
Berdasarkan data prasasti, rumah desa Borobudur termasuk dalam bentuk bangunan yang berbentuk pemukiman adat. Permukiman pada masa Mataram Jawa Kuno era VII – X M dalam Prasasti RUKAM tahun 907 M disebutkan terbuat dari kayu. Menyebutkan kegiatan adat Jawa Kuno antara lain sebagai berikut: pembuatan gerabah yang dipahat pada relief candi Borobudur. Panel relief cerita tentang pembuatan gerabah terdapat pada dinding lorong dan langkan.

Salah satu aktifitas dalam pembuatan tembikar
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.
Pemandangan pedesaan pada masa Jawa Kuna di kawasan Borobudur yang meliputi kawasan pemukiman dan rumah adat dapat disebutkan salah satunya pada penggambaran relief konstruksi rumah berdasarkan data prasasti, rumah pedesaan Borobudur termasuk dalam bentuk bangunan berupa pemukiman adat dan rumah adat. Dengan kehidupan di lingkungan perumahan para pembuat gerabah seperti di Desa Nglipoh, Karanganyar.
Berdasarkan data prasasti, rumah desa Borobudur termasuk dalam bentuk bangunan yang berbentuk pemukiman adat. Permukiman pada masa Mataram Jawa Kuno era VII – X M dalam Prasasti RUKAM tahun 907 M disebutkan terbuat dari kayu. Menyebutkan kegiatan adat Jawa Kuno antara lain sebagai berikut: pembuatan gerabah yang dipahat pada relief candi Borobudur. Panel relief cerita tentang pembuatan gerabah terdapat pada dinding lorong dan langkan.
| Salah satu aktifitas dalam pembuatan tembikar Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Menurut legenda Jawa, disebutkan daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam tradisi kepercayaan masyarakat Jawa, dan daerah ini disanjung-sanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.
Lanskap Chandi Borobudur
Lansekap pada umumnya mempelajari beberapa hal seperti terbentuknya lahan, baik disengaja maupun tidak disengaja, melalui proses penataan atau pengelolaan tata ruang, atau perubahan lahan untuk tujuan tertentu, baik secara keagamaan, ekonomi, budaya, maupun simbolik, yang mengakibatkan terjadinya suatu perubahan seperti dalam penggunaan lahan. Hal ini berlangsung melalui peran dan kandungan simbolik lanskap dalam berbagai konteks dan perannya dalam mengkonstruksi mitos dan sejarah serta melalui perilaku dan tindakan manusia yang membentuk lanskap.
Lanskap budaya merupakan konfigurasi antara hasil karya manusia dan sumber daya alam, sebagai suatu wujud kebudayaan yang mempunyai karakter khusus yang dihasilkan dari ekspresi pemikiran, pilihan, atau acuan dalam perilaku manusia. Lanskap budaya menggambarkan hubungan jangka panjang antara manusia dan lingkungan alamnya. Lanskap budaya dapat mencerminkan teknik penggunaan lahan tertentu yang menjamin dan memelihara keanekaragaman hayati. Lanskap budaya juga dapat berkaitan erat dengan pemikiran, kepercayaan, seni, adat istiadat, dan hubungan spiritual yang kuat antara manusia dan alam. Pemandangan alam mempunyai nilai penting dalam kehidupan manusia.
Bentang alam Borobudur pada awalnya terbentuk dalam jangka waktu yang sangat lama, dan hal ini sering disebut dengan masa geologi. Beberapa hal yang berkaitan dengan masa tersebut antara lain dipengaruhi oleh aktivitas tektonik, vulkanik, transportasi, dan sedimentasi yang bersama-sama membentuk keunikan bentang fisik Borobudur. Bentuk daratan utama di Borobudur meliputi dataran berbentuk danau yang disebut danau, hamparan pegunungan, gunung berapi, perbukitan terpencil, dan sungai. Kajian lanskap budaya Borobudur mencakup beberapa hal yaitu komponen utama lanskap fisik Borobudur, sosial budaya, makna filosofis. Terkait dengan Danau Purba Borobudur yang telah dibuktikan melalui penelitian dengan penjelasan bukti ilmiah dan pentingnya hal tersebut. Lanskap budaya dalam penjelasan mengenai pengertian lanskap budaya itu sendiri, dan lanskap budaya dalam konteks warisan dunia. Lansekap Borobudur tertulis pada beberapa prasasti.
Penyebutan lahan pertanian pada prasasti seperti sawah, gaga / ladang, kbuan / kebun, dan renek / rawa, telah menunjukkan bahwa pertanian merupakan aspek kehidupan yang penting pada masa itu. Istilah pengolahan sawah yang terdapat pada prasasti masih digunakan sampai sekarang, misalnya amaluku, ataman, amatun, ahani, dan anutu. Kegiatan lain yang masih berkaitan dengan kehidupan pertanian juga tercatat dalam prasasti yang menyebutkan hewan ternak untuk keperluan upacara penunjukan sima (daerah bebas pajak atau sawah), misalnya hayam / ayam, hantiga / hantrini / hantlu / telur. Tercatat pula alat penangkapan ikan seperti jaring, icir dan wuwu masih banyak digunakan oleh para penangkap ikan di sungai.
| Borobudur sebagai lansekap pedesaan (rural landscape). Keadaan ini berpengaruh pada budaya masyarakat yang hidup di dalamnya dan membentuk Borobudur menjadi kawasan pertanian dengan karakter lansekap perdesaan (rural landscape). Kehidupan agraris di Borobudur telah berlangsung sejak masa Mataram Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Makna Lanskap Borobudur
Penjelasan mengenai makna dan arti interpretasi lanskap Borobudur diawali dengan pembahasan kosmologi dalam kepercayaan Buddha. Secara sederhana kosmos dipahami sebagai dunia/alam semesta dan keteraturannya (universe and order). Kosmologi Hindu-Buddha meyakini adanya paralelisme antara makrokosmos dan mikrokosmos, yaitu antara alam semesta dan kehidupan manusia.
Kosmos dipahami sebagai dunia/alam semesta kosmologi Hindu-Buddha yang meyakini paralelisme antara alam semesta dan kehidupan manusia. Konsep Budha tentang alam semesta di atas harus diwujudkan dalam skala yang lebih kecil dalam kehidupan manusia (mikrokosmos) untuk mencapai harmonisasi. Dalam konteks Candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha, maka penerapan kosmologi tersebut merupakan sebuah keniscayaan, baik dalam pemilihan lokasi maupun dalam pembangunan monumen tersebut.
Dalam konteks keseluruhan desain Candi Borobudur diyakini mewakili sebuah mandala. Mandala tidak hanya dipandang sebagai bentuk geometris dalam arsitektur bangunan suci, namun merupakan 'jalan' bagi manusia untuk mencapai tingkat kesempurnaan (pencerahan).
Makna konseptual lanskap Borobudur mempunyai penjelasan tentang Makrokosmos (tatanan alam semesta) dalam agama Buddha yang digambarkan dalam suatu sistem yang pusatnya adalah gunung suci yang mempunyai kekuatan kosmis bernama Meru. Gunung Meru dikelilingi oleh tujuh barisan pegunungan yang masing-masing dipisahkan oleh tujuh lingkaran lautan. Bagian terluar dari pegunungan membentang melintasi lautan, yang di atasnya terdapat empat daratan di empat arah mata angin. Tanah di selatan Gunung Meru adalah Jambūdvīpa, tempat tinggal manusia. Dalam sistem ini, alam semesta juga dikelilingi oleh tembok batu besar yaitu Chakravāla.
Mandala tidak hanya dipandang sebagai bentuk geometris dalam arsitektur bangunan suci, namun merupakan “jalan” bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan dan pencerahan. Konsep mandala pada monumen Candi Borobudur diulangi pada lanskap yang lebih luas. Kosmologi alam semesta Budha juga diterapkan dalam pemilihan lokasi bangunan suci ini. Perhitungan yang cermat dalam perencanaan, penataan ruang, struktur dan arsitektur merupakan faktor penting dalam menentukan lokasi candi. Aturan mendirikan bangunan suci Hindu-Buddha dapat diketahui dari buku-buku arsitektur India kuno.
Terdapat sebuah buku yang menjelaskan secara detail hal-hal yang harus diperhatikan oleh para pendeta arsitek dan arsitek perencana dalam memilih lokasi untuk membangun sebuah bangunan suci. Dalam buku tersebut juga dijelaskan tentang komponen arsitektur yang digolongkan menjadi empat, yaitu tanah, bangunan induk dan penunjang, prasarana transportasi, dan tempat tidur. Tanah / tempat merupakan komponen terpenting dalam pembangunan suatu bangunan suci, sehingga pemilihan lokasi harus dilakukan dengan cermat. Unsur bentang alam yang penting dalam kosmologi alam semesta (gunung, tanah, dan air) harus terpenuhi dalam menentukan lokasi candi. Gambaran makrokosmos dapat ditemukan di kawasan Borobudur. Merujuk pada kitab Weda masa Hindu Kuno India, Meru merupakan pilar dunia atau pusat kosmos. Beberapa gunung keramat berdiri disekitarnya, terutama di empat penjuru mata angin dengan dewa sebagai penguasanya.
Terkait dengan Meru, ada pula telaga nirwana yang airnya merupakan air keabadian. Dari Meru mengalir Sungai Gangga, dan kehidupan para penghuni Nirwana bergantung pada Meru. Candi Borobudur berada di Cekungan Kedu yang secara geografis berada hampir tepat di tengah Pulau Jawa. Kawasan Borobudur sebenarnya dikelilingi oleh pegunungan, perbukitan dan terdapat pegunungan yang dialiri oleh sungai-sungai besar seperti Sungai Progo, Elo dan Sileng, serta Danau Borobudur di sekitar Candi Borobudur. Konfigurasi ini menggambarkan Candi Borobudur sebagai Meru.
Pemandangan lingkungan alam kawasan Borobudur dapat diartikan sebagai sistem alam semesta Budha. Candi Borobudur melambangkan Gunung Meru (gunung kosmik), sedangkan pegunungan yang mengelilingi kawasan Borobudur dapat dilihat sebagai simbol deretan gunung suci yang diperintah oleh para dewa. Danau Nirwana dilambangkan dengan Danau Borobudur Purba dan sungai-sungai yang mengalir di Kawasan Borobudur (Sungai Progo dan Sungai Elo) merupakan simbol dari Sungai Gangga dan lautan (badan air).
Menurut Soekmono, kawasan sekitar pertemuan Sungai Progo dan Elo pada masa lalu dianggap sebagai tempat suci sehingga banyak terdapat bangunan suci Hindu dan Budha dalam radius kurang dari 3 km dari titik pertemuan kedua sungai tersebut. Meru adalah simbolisme mandala. Candi Borobudur sebagai mandala pada dasarnya adalah bangunan yang dibangun sebagai representasi kesatuan antara makrokosmos dan mikrokosmos, sebagai upaya manusia untuk mencapai kesempurnaan.
DANAU KUNO BOROBUDUR
Keberadaan danau atau kolam di sekitar Candi Borobudur pertama kali dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1933. Candi Borobudur yang berada di atas bukit menggambarkan bunga teratai yang mengambang di tengah kolam. Bunga teratai hampir selalu ditemukan dalam seni Buddha. Arsitektur Candi Borobudur sendiri juga seperti bunga teratai yang merupakan simbol dari agama Budha Mahayana.
Secara umum, berbeda dengan arsitektur candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m (869 kaki) di atas permukaan laut dan 15 m (49 kaki) di atas dasar danau kuno yang telah mengering. ke atas. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan arkeolog pada abad ke-20; Dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di pinggir atau bahkan di tengah danau.
Penelitian pada tahun 1931 oleh seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, yang mengemukakan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun untuk melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau. Bunga teratai, baik yang berbentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), maupun cumuda (teratai putih) dapat ditemukan di semua ikonografi seni keagamaan Buddha. sering dipegang oleh para Bodhisattva sebagai simbol (simbol regalia), sebagai tempat duduk singgasana Buddha atau sebagai alas stupa. Bentuk arsitektur Candi Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di bangunan ini melambangkan Sutra Teratai yang biasa terdapat dalam kitab agama Buddha aliran Mahayana (mazhab Buddha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diperkirakan melambangkan kelopak bunga teratai.
Namun teori Nieuwenkamp yang terdengar luar biasa dan fantastis ini mendapat banyak keberatan dari para arkeolog. Di lahan sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologis yang membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini merupakan lahan kering, bukan dasar danau purba.
Sementara itu, para ahli geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Kajian stratigrafi, analisis sampel sedimen dan serbuk sari yang dilakukan pada tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, sehingga hal ini memperkuat gagasan Nieuwenkamp. Ketinggian permukaan danau purba ini naik turun dan berubah dari waktu ke waktu, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kaki bukit dekat Borobudur pernah kembali terendam air dan menjadi tepian danau sekitar abad ke-13 dan ke-14.
Aliran sungai dan aktivitas gunung berapi diduga turut berkontribusi terhadap perubahan bentang alam dan topografi lingkungan sekitar Borobudur, termasuk danaunya. Salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang letaknya cukup dekat dengan Borobudur dan sudah aktif sejak zaman Pleistosen.
Gambar bentuk Candi Borobudur sebagai bunga teratai bahkan menjadi salah satu kriteria penetapan Kompleks Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia.
Pernyataan nilai universal yang luar biasa Kriteria (vi), yang menunjukkan konotasi Candi Borobudur sebagai bunga teratai. Bunga ini selalu dikaitkan dengan lingkungan perairan (danau, rawa, telaga, sungai) agar tetap hidup. Oleh karena itu, keberadaan Danau Borobudur dapat dianggap sebagai 'setting yang tepat' bagi Candi Borobudur. Setting merupakan salah satu atribut yang digunakan untuk menilai keaslian suatu warisan dunia, sehingga dengan adanya jejak Danau Borobudur dapat meningkatkan keaslian kompleks Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia.
Kompleks Candi Borobudur merupakan satu kesatuan antara Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut dan bentang alamnya. Ketiga candi yang berjejer memanjang dalam satu garis lurus (cenderung) ke arah timur barat ini tentunya juga ditempatkan berdasarkan konsepsi keagamaan tertentu. Dahulu diperkirakan umat Buddha melakukan prosesi ritual dari Candi Mendut ke Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur. Rangkaian perjalanan prosesi tersebut dapat dibayangkan seperti melewati lingkaran darat dan laut yang bergantian mengelilingi Gunung Meru sebagaimana digambarkan dalam kosmologi Budha.
Keberadaan Danau Borobudur memperkuat persamaan antara bentang alam Kompleks Candi Borobudur dengan kosmologi Budha. Danau Purba Borobudur tidak lain adalah representasi salah satu unsur alam semesta dalam konsep kosmologi Budha yaitu danau nirwana.
Borobudur
Sejarah menyebutkan bahwa Chandi Borobudur terletak tepat di atas sebuah bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Melihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
![]() |
Arca Budha Borobudur adalah candi Borobudur, berasal dari kata 'biara - bedudur' yang kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Selamat Datang di Bhumisambharabhudhara. Warisan Budaya Dunia UNESCO, chandi Buddha terbesar didunia. Sumber: foto arisguide, Guiding Technique Chandi Borobudur arisguide. |
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PAMONG CARITA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
![]() Arca Budha teras Arupadhatu dipagi hari. |
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.



No comments:
Post a Comment