Sunday, May 15, 2022

BOROBUDUR DALAM KONSEP BAUDHAPATHA


Selamat datang, senang sekali dengan perjalanan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur tujuan wisata utama di Indonesia. Bangunan ini telah menjadi bagian dari situs warisan dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata dalam kesempatan ini akan menemani dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai apresiasi belajar dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.

Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki makna mulia dan bersejarah bagi bangsa Indonesia, sehingga membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Chandi Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Dibukanya kembali gedung ini untuk pariwisata menjadi kesempatan menyenangkan untuk menggali beberapa sumber narasi tentang keberadaan gedung ini dalam wisata tematik Borobudur.

Wisata dan kunjungan yang ada dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat dalam belajar mengenal sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, yang merupakan bentuk apresiasi dalam belajar dan ikut serta dalam mengenali, menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia yang ada di Borobudur Indonesia.

Pada kesempatan yang menyenangkan menjelajahi kebudayaan leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus mengetahui hubungan tiga candi Budha, yaitu Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut.

Berada di Borobudur

Selamat datang di Borobudur atau namanya disebut-sebut Barabudur, candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.

Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.

Jalan penghubung (koridor imajiner) Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut.
jalan untuk prosesi keagamaan yang bersifat atau berkaitan dengan agama Buddha (Mahayana). Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. 

Baudhapatha Tiga Candi Budha

Dijelaskan mengenai Candi Borobudur, Pawon dan Mendut, ketiga candi ini memiliki kemiripan latar belakang keagamaan, kesamaan arsitektur dan juga hiasan, sehingga konon ketiganya berkaitan satu sama lain. Keberadaan kompleks candi Ngawen juga perlu dikaji ulang, karena jika dilihat sekilas candi ini berdekatan dengan tiga candi lainnya, maka diduga candi Ngawen merupakan satu kesatuan dengan Borobudur, Pawon, dan Mendut.

Pendapat beberapa ahli mengenai jalan yang menghubungkan ketiga candi yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut menyebutkan bahwa letak ketiga candi tersebut terletak pada satu garis lurus, menurut Wirjosoeparto, Bernet Kempers dan Soekmono. Ketiganya bernafaskan ajaran Buddha Mahayana, menurut de Casparis. Ketiga candi tersebut dihias dengan komponen arsitektur dan ornamen yang sama, misalnya bentuk Hiranyagarbha, Kalpalata, pohon Kalpataru, makhluk surgawi, dan lain-lain, menurut penjelasan Bernet Kempers. Tangga utama menaiki Candi Borobudur berada di sisi timur, di arah tersebut terdapat Candi Pawon dan Mendut, sehingga candi ini seolah menghadap ke arah datangnya peziarah dari Candi Mendut dan Pawon menurut Munandar.

Jalan penghubung (koridor imajiner) Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut.
jalan untuk prosesi keagamaan yang bersifat atau berkaitan dengan agama Buddha (Mahayana). Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. 

Ketiga candi ini merupakan hasil Seni Sailendrawangsa. Kesimpulan dari ketiga candi ini, secara khusus ketiga candi ini mempunyai keistimewaan sebagai candi Bauddha yaitu mempunyai ciri khas yaitu pada dinding tangga di beberapa candi terdapat ukiran relief, misalnya yang ada di Pawon. Candi, Candi Mendut, Candi Sajiwan, dan Candi Banyunibo. Dinding luar candi Bauddha tidak pernah dilengkapi relung, seperti halnya pada candi Hindu. Dinding candi, khususnya bagian tubuh, selalu dipercantik dengan hiasan relief Apsara, Bhoddhisattwa, atau makhluk surgawi lainnya. Pada umumnya bangunan candi mempunyai ruangan-ruangan yang biasanya dilengkapi dengan lubang ventilasi atau jendela. Di dalam candi terdapat altar yang berfungsi untuk meletakkan arca yang bersandar pada dinding belakang.

Pada dasarnya pada candi-candi yang mempunyai ruangan-ruangan pada umumnya terdapat arca-arca dengan ciri-ciri yang ada pada masa Sailendrawangsa, antara lain beberapa hal seperti penggambaran arca dengan bentuk yang proporsional dengan wujud manusia, hal ini merupakan upaya personifikasi yang mendekati kesempurnaan.

Penggambaran berbagai hiasan seperti yang disebutkan mengenai kalung, hiasan telinga, gelang, cincin di bahu, dan mahkota dibuat dalam bentuk ukiran halus dengan komposisi yang serasi. Wajah patung atau figur relief selalu digambarkan manis dan kalem, padahal para dewa umumnya berwatak galak. Kengerian tersebut ditunjukkan dengan jumlah tangan yang lebih dari 4, serta berbagai hiasan yang memberi kesan angker, misalnya saja hiasan tengkorak. Penampakan suatu patung atau relief memberikan kesan hidup, karena mengandung nilai estetika yang tinggi. Mungkin disesuaikan dengan konsep fluiditas dan keindahan yang terkait dan dikenal dalam seni India kuno.

Pola atau model yang ditampilkan pada relief Sailendrawangsa dan penanda nilai estetis pada relief candi Borobudur mempunyai nilai yang tinggi, seperti kekuatan nilai estetis yang terdapat pada sifat naturalistik yang mendekati sempurna. Relief-relief ini selalu digambarkan secara detail dan akurat, serta relief-relief tersebut digambarkan dengan sangat tenang. Penggambaran pola pakaian berbagai tokoh dalam cerita disesuaikan dengan estetika, pakaian sederhana tetap cantik, pakaian adat pun semakin indah. Berhasil menampilkan perasaan yang sesuai dengan karakter tokoh yang digambarkan (sedih, senang, ramah, setia, takut, mendukung, bermusuhan, dan sebagainya).

Berdasarkan pendapat A.J. Bernet Kempers dan R. Soekmono menjelaskan koridor imajiner ini diambil menurut cerita penduduk sekitar Borobudur, bahwa dulunya terdapat jalan beraspal yang menghubungkan Candi Mendut dengan Candi Borobudur, namun tidak banyak ditemukan jejak jalan tersebut.

Pendapat J G. De Casparis dalam argumentasinya mengenai keterangan yang tertulis dalam prasasti Karangtengah tahun 824 M menjelaskan bahwa dalam uraian prasasti disebutkan bahwa ada dua orang raja Buddha Mahayana yang memerintah di Jawa Tengah pada akhir masa pemerintahan. Abad ke-8 hingga akhir abad ke-9 Masehi. Kedua raja tersebut adalah Indra dan Samarattungga. Raja Indra membangun sebuah bangunan yang diberi nama Wenuwana, menurut De Casparis, bangunan Wenuwana tersebut tak lain adalah Candi Mendut. Dalam hal ini Raja Indra rupanya membangun bangunan suci Wenuwana agar dapat mencapai sepuluh tingkat Bhoddhisattva atau disebut Dasaboddhisattwabhummi.

Dalam Buddhisme Hinayana, tujuan umat Buddha adalah untuk kebutuhannya sendiri untuk keluar dari samsara dan memasuki Nirwana. Berbeda dengan agama Budha Mahayana yang tujuan memasuki Nirwana ditunda dulu, seseorang yang sudah mencapai tingkat Kebuddhaan tertinggi tidak langsung masuk Nirwana, namun berusaha membantu orang lain agar banyak orang yang bisa masuk Nirwana secara bersama-sama. Oleh karena itu, bangunan Wenuwana atau Candi Mendut merupakan simbol dari ajaran Mahakaruna (cinta yang besar terhadap manusia) dari Raja Indra kepada rakyatnya.

Selanjutnya menurut R.M. Soetjipto Wirjosoeparto menjelaskan dalam agama Buddha Mahayana terdapat dua konsep penting yaitu Lokottara dan Laukika. Seseorang yang akan menjadi Buddha terlebih dahulu harus melalui dua jalan di dunia, dua jalan yang terdapat pada tingkat Laukika, yaitu (a) Sambharamarga dan (b) Prayogamarga. Lokottara adalah dunia di atas dunia manusia, dunia para dewa yang terdiri dari 10 tingkat Kebuddhaan atau Dasabhoddhisattwabhumi menurut Wirjosuparto.

CANDI MENDUT,
Simbol konsep Sambharamarga. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. 
Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

CANDI PAWON
Candi kecil yang mempunyai banyak keistimewaan, memahami konsep paling dasar agama Buddha. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Menurut R.M. Soetjipto Wirjosoeparto, bahwa konsep dasar agama Buddha adalah Catur Arya Satyani, yaitu hidup adalah penderitaan atau kesedihan, penderitaan karena kehausan, dan hal ini dapat ditekan, dengan mengikuti 8 jalan kebenaran atau marga. Jalan kebenaran mencakup hal-hal seperti pandangan benar, niat benar, ucapan benar, perilaku benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan meditasi sejati.

Menjelaskan Catur Aryasatyni adalah 1. Dukha, adalah penderitaan, kehidupan adalah penderitaan, menjadi tua adalah penderitaan, mendapatkan apa yang tidak sesuai dengan yang diharapkan adalah penderitaan, ringkasnya hidup adalah menderita. 2. Samudaya, adalah sebab, semua penderitaan itu ada sebabnya. Seseorang merasa menderita karena seseorang itu tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperoleh, apa yang dimiliki atau dinikmatinya, seseorang senantiasa akan merasa “kehausan”, keinginan, dan hasrat (trsna) yang menjadi penyebab penderitaan. 3. Nirodha, pemadaman atau penghapusan segala keinginan secara sempurna, menekan, menyangkal, membuang keinginan itu, dan tidak memberi tempat kepada segala hasrat. 4. Marga, adalah jalan kalepasan yang terdiri dari delapan cara (Astawidha), yaitu mempunyai kepercayaan yang benar, memiliki maksud yang benar, menyampaikan ucapan yang benar, perbuatan yang benar, hidup yang benar, usaha yang benar, serta memiliki ingatan yang benar, dan terakhir adalah Samadhi yang benar.

Percandian Ngawen merupakan dalam satu kesatuan pula dengan tiga candi lainnya yaitu Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut, hal ini karena adanya beberapa bukti yang menjelaskan pendapat candi tersebut mempunyai kedekatan atau hubungan erat dengan ketiga candi tersebut. Menyebutkan beberapa kedekatan itu antara lain: 1. Percandian Ngawen berada dalam satu garis lurus dengan Borobudur, Pawon, dan Mendut. Apabila garis maya penghubung ketiga candi itu diteruskan ke arah timur, maka akan sampai di Percandian Ngawen. Percandian itu berada di titik paling timur dan menghadap ke timur. 2. Candi Ngawen mempunyai latar belakang agama Buddha Mahayana. Terdapat arca Tathagata Ratnasambhawa yang terpenggal kepalanya di bilik Candi Ngawen II yang telah dipugar. Gaya arca Buddha percandian Ngawen pun sama dengan arca-arca Buddha Candi Borobudur, dalam sikap duduk, penggarapan cermat, dan permukaannya halus. 3. Candi Ngawen II mempunyai komponen arsitektur yang sama dengan Candi Borobudur, dan Mendut, yaitu adanya pagar langkan yang mengelilingi bagian tepi yang disebut pradaksinapatha. Pagar langkan di Borobudur relatif tinggi, dinding dalamnya bahkan dihiasi relief cerita, Candi Mendut tingginya sekitar 100 cm, sedangkan wedika Candi Ngawen II hanya tersisa susunan batu bagian dasarnya saja. 4. Pada bagian kaki Candi Ngawen II dan reruntuhan candi-candi lainnya di percandian Ngawen terdapat bentuk “pelipit bergerigi”, sama dengan yang dijumpai di Candi Boorobudur dan Mendut. “Pelipit bergerigi” bentuknya seperti deretan kubus-kubus kecil yang keluar dari dinding kaki candi. Ukuran “pelipit bergerigi” di Borobudur lebih besar daripada pelipit yang sama di Candi Mendut dan Ngawen. 

Kompleks Percandian Ngawen
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide

Percandian Ngawen
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide

Catur Arya Satyani dalam penerapan pada empat candi  Buddha mempunyai arti dan makna sebagai simbol dari masing-masing konsep Bauddha, yang dimulai dari percandian Ngawen yang merupakan simbol dari arti  Dukha. Candi Mendut adalah simbol dari Samudaya, Candi Pawon merupakan simbol dari Nirodha dan Candi Borobudur adalah simbol Astavidha. Keempat candi tersebut sebenarnya adalah penggambaran dari Catur Arya Satyani dalam wujud bangunan suci, tentu saja pada setiap bangunan suci itu akan tersimpan unsur bangunan dalam bentuk bagian arsitektur, ragam hias,  arca, atau lainnya yang sebenarnya merupakan  simbol dari salah satu Arya Satyani. Bauddhapatha sebagai jalan upacara penghubung diantara candi-candi tersebut mempunyai dua penafsiran bahwa Bauddhapatha mengambil arti yang didasarkan pada ajaran Lokottara dan Laukika, akan menjelaskan pada hubungan tiga candi yaitu Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur, dengan prosesi yang berawal dan dimulai dari Candi Mendut dan berakhir di Candi Borobudur. Untuk Bauddhapatha yang didasarkan pada ajaran Catur Arya Satyani akan menghubungkan empat candi, dan dimulai dari percandian Ngawen, Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur, dengan awal prosesi dari Percandian Ngawen.

Bauddhapatha
Patha: adalah jalan  setapak yang dilalui oleh para pendeta, bhiksu-bhiksuni, para penziarah ketika diadakan upacara prosesi keagamaan.
Bauddha: bersifat ke-Buddha-an.
Bauddhapatha:  jalan untuk prosesi keagamaan yang bersifat atau berkaitan dengan agama Buddha (Mahayana).

Agaknya pendapat ke-2 yang lebih dapat diterima, bahwa memang benar Percandian Ngawen termasuk pada salah satu rangkaian candi-candi itu, karena masing-masing candi menjadi penanda batas tingkatan dunia yang dikenal dalam Buddha Mahayana. Keempat candi melambangkan ranah tingkatan sebagai penanda batas-batas yang meliputi: (a) kawasan dari percandian Ngawen sampai Candi Mendut merupakan simbol dari Kamawacara, yaitu alam kehidupan yang masih dipenuhi oleh hawa nafsu, kehendak, dan segala keinginan duniawi lainnya, (b) kawasan antara Candi Mendut dan Candi Pawon adalah simbol dari Rupawacara, yaitu dunia orang yang telah berhasil menindas segala hasrat, nafsu-angkara, dan hidup dalam kebajikan agama, (c) kawasan dari Candi Pawon menuju ke Candi Borobudur adalah masuk kawasan Arupawacara, yang sebenarnya adalah bentuk dunia tanpa wujud, kekosongan yang hampa. Bahwa dunia itu tentu saja dapat dicapai seseorang jika telah mengamalkan Buddhadharma sesuai dengan ajaran sang Buddha. Apabila hanya tiga candi saja yang berasosiasi, yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut, maka pembagian imajiner kawasan wacara itu tidak lengkap, sebab Percandian Ngawen tidak diikutsertakan.

Dalam upacara keagamaan Borobudur dengan bangunan pendukungnya, yaitu Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen terintegrasi kedalam sistem bentuk upacara pemujaan Buddha Mahayana. Keempat bangunan tersebut disatukan dalam prosesi keagamaan yang bermula dari Candi Ngawen, Candi Mendut, Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur.


Lingkungan Tiga Candi

Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan tanahnya.

Selain Borobudur, terdapat beberapa candi Buddha dan Hindu di kawasan ini. Pada masa penemuan dan pemugaran di awal abad ke-20 ditemukan candi Buddha lainnya yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon yang terbujur membentang dalam satu garis lurus. Awalnya diduga hanya suatu kebetulan, akan tetapi berdasarkan dongeng penduduk setempat, dulu terdapat jalan berlapis batu yang dipagari pagar langkan di kedua sisinya yang menghubungkan ketiga candi ini. Tidak ditemukan bukti fisik adanya jalan raya beralas batu dan berpagar dan mungkin ini hanya dongeng belaka, akan tetapi para pakar menduga memang ada kesatuan perlambang dari ketiga candi ini. Ketiga candi ini Borobudur, Pawon dan Mendut memiliki kemiripan langgam arsitektur dan ragam hiasnya dan memang berasal dari periode yang sama yang memperkuat dugaan adanya keterkaitan ritual antar ketiga candi ini, akan tetapi bagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum diketahui secara pasti.

Selain candi Mendut dan Pawon, di sekitar Borobudur ditemukan beberapa peninggalan purbakala, di antaranya berbagai temuan tembikar seperti periuk dan kendi yang menunjukkan bahwa di sekitar Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian. Temuan-temuan purbakala di sekitar Borobudur kini disimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur, yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra Raksa.

Tidak seberapa jauh di sebelah utara Candi Pawon ditemukan reruntuhan bekas candi Hindu yang disebut Candi Banon. Pada candi ini ditemukan beberapa arca dewa–dewa utama Hindu dalam keadaan cukup baik yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Akan tetapi batu asli Candi Banon amat sedikit ditemukan.

Selamat Datang di Borobudur
Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Candi Borobudur, berasal dari kata 'biara - bedudur' yang kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Jelajahi Chandi Borobudur

Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur ariguide.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.

Chandi Borobudur
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PAMONG CARITA.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.


No comments:

Post a Comment

BOROBUDUR MERUPAKAN PUNCAK KEBUDAYAAN JAWA KUNO

S elamat datang di Kebudayaan Borobudur, salah satu cagar budaya bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan da...