Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.
Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.
Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Pemandangan masyarakat pedesaan Borobudur Keindahan pemandangan lansekap pedesaan Jawa Kuno, cara hidup di tempat sawah Borobudur. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Melangkah di Borobudur
Chandi Borobudur merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang mempunyai nilai luhur dan sejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata sangat terkagum-kagum akan kemegahan dan keindahan monumen ini.
Lokasi candi kurang lebih 99 kilometer di sebelah barat daya Kota Semarang, 86 kilometer di sebelah barat Kota Surakarta, dan 40 kilometer barat laut dari Kota Yogyakarta.
Borobudur dibangun di atas sebuah bukit di dataran yang dikelilingi oleh dua gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara adalah bukit Tidar, dan di selatan adalah pegunungan Menoreh, dan terletak di dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo di sebelah timur.
Terletak Borobudur atau Barabudur, nama Borobudur berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat ibadah atau pura umat Buddha, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali. kata 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Kemudian arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.
Para peziarah masuk melalui sisi timur mulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).
Dalam perjalanannya para peziarah berjalan melalui serangkaian lorong-lorong dan tangga yang mendaki dengan menyaksikan tidak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, Chandi Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.
Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan lahan tanahnya.
Cagar Budaya Borobudur
Chandi Borobudur adalah sebuah situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site, candi Buddha ini terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Masuk dalam daftar salah satu situs warisan budaya dunia adalah Candi Borobudur, sejak tahun 1991 oleh UNESCO, sehingga bangunan ini menjadi bagian dari monumen terbesar di dunia.
![]() |
Kebudayaan Borobudur adalah candi Borobudur, berasal dari kata 'biara - bedudur' yang kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pencapaian estetika dan keahlian teknik arsitektur yang ditampilkan Borobudur, serta ukurannya yang luar biasa, menjadi bukti keagungan masa lalu, dan telah membangkitkan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Sebagaimana peran Angkor Wat untuk Kamboja. Borobudur telah menjadi simbol yang kuat bagi Indonesia yaitu sebagai saksi kejayaan masa lalu.
Chandi Borobudur dibangun abad VIII-IX M, yang disebutkan dalam dua prasasti yaitu Karangtengah 824 M dan Sri Kahulunan 842 M, oleh Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra yang berkuasa kurun waktu sekitar 782 – 812 M, dengan latar belakang agama Buddha Mahayana. Sebagai bangunan suci untuk peribadatan dan tempat pemujaan.
Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Monumen ini dibangun dengan bentuk arsitektur Jawa-Budha yang memadukan budaya pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana.
Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha.
Secara dimensi, Candi Borobudur mempunyai denah berbentuk persegi panjang dengan dimensi panjang dan lebar 121,66 m x 121,38 m. Ketinggiannya, tidak termasuk puncak chatra, adalah 35,40 meter. Candi Borobudur tersusun dari batu andesit dan terdiri dari 10 lantai dengan stupa induk di puncaknya, paling besar dan dikelilingi deretan stupa berlubang tiga tingkat yang berjumlah 72 stupa dan di dalamnya terdapat patung Budha.
Tersusun dari batu andesit sebanyak 55.000 meter kubik batu (2.000.000 potong batu) dan pada dinding lorong batu terdapat pahatan relief berjumlah 1.460 panil cerita yang terbagi dalam 160 panil cerita Karmawibhangga, 1300 panil cerita Lalitavistara, cerita Jataka Avadana dan cerita Gandawyuha. Sedangkan panel relief dekoratif berjumlah 1.212 panel relief.
Bangunan suci umat Buddha Candi Borobudur pernah mengalami masa “terabaikan”, bangunan dan dinding mengalami runtuh, rusak dan tidak terurus. Akibat bencana alam dan letusan gunung Merapi bangunan candi Borobudur tertutup abu dan tanah yang mengakibatkan pemeluk agama Buddha yang tinggal di daerah bangunan tersebut meninggalkan Borobudur, sebagaimana sejarah yang disebutkan dalam buku “Babad Tanah Jawi” tahun 1709 dan “Babad Tanah Mataram” tahun 1757.
Pada tahun 1814, masyarakat Bumisegoro sekitar Borobudur menyebutkan dan menginformasikan adanya sebuah candi atau bangunan suci yang terkubur dan tertutup tanah, yang berada di dalam bukit, sehingga menarik perhatian untuk diselidiki. Candi Borobudur mendapat perhatian serius dan penyelidikan dimulai oleh Thomas Stanford Raffles, seorang Gubernur Jenderal Inggris yang berada di Pulau Jawa.
Dalam sejarah disebutkan bahwa Raffles adalah orang pertama yang menemukan Candi Borobudur. Upaya peresmian bangunan yang dilakukan Raffles merupakan momentum penting untuk memperkenalkan Candi Borobudur ke dunia internasional. Kemudian oleh seorang insinyur Belanda H.C Cornelius yang dibantu sekitar 200 orang selama 45 hari membersihkan semak-semak yang menutupi bukit Candi Borobudur.
Upaya pembersihan selanjutnya dilakukan pada tahun 1835 yang dipimpin oleh Hartman, seorang Residen Kedu. Pada era ini, deskripsi Candi Borobudur juga dilakukan oleh Brumun dan sketsanya dilakukan oleh Wilson. Pada tahun 1885, Jan Willem Ijzerman, seorang insinyur yang saat itu menjabat sebagai presiden pertama Archeologische Vereniging Yogyakarta – Sarekat Arkeologi, bersama timnya melakukan penggalian dan menemukan dasar Borobudur berupa rangkaian relief panjang yang dikenal dengan nama relief Karmawibhangga. Saat itu, fotografer pribumi, Kassian Cephas, diminta memotret seluruh 160 panil relief yang tampak dari hasil penggalian. Setelah itu rangkaian panel relief ditutup kembali.
Candi Borobudur telah mengalami beberapa upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan kembali kejayaan dan kemegahan di masa lalu. Pemugaran pertama Candi Borobudur dipimpin oleh Theodore van Erp, dan dilaksanakan pada tahun 1907-1911 dan Pemugaran kedua dilaksanakan pada tahun 1973-1983, pemugaran yang terbesar digelar atas upaya kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia – Unesco World Heritage 1991.
Chandi Borobudur mengalami bangunan runtuh dan akibat bencana alam serta letusan gunung berapi, bangunan ini terbengkalai dan terkubur di dalam bukit. Stupa-stupa di teras Arupadhatu tertutup tanah. Semak dan pohon-pohon besar tumbuh di halaman sekitar candi. Tanah penutup candi dibuang ke sekeliling bukit. Reruntuhan batu bertumpuk di sekitar kaki candi.
Barabudur atau Borobudur adalah candi atau bangunan suci Buddha Mahayana dengan arsitektur berbentuk stupa piramida berundak, yang didirikan oleh Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra.
Pelestarian Cagar Budaya Borobudur
Chandi Borobudur merupakan salah satu dari beberapa Situs Warisan Budaya (CB) di Indonesia yang berbentuk bangunan candi terbesar. Saat ini Borobudur telah dimasukkan sebagai situs warisan budaya dunia atau World Heritage Site. Dibangun pada abad IX dengan latar belakang agama Buddha Mahayana dan pada masa kejayaan Dinasti Syailendra.
Secara administratif Chandi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Chandi Borobudur terletak di atas bukit di dataran yang dikelilingi dua pasang gunung; Gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara terdapat Bukit Tidar, dan di selatan terdapat pegunungan Menoreh, serta terletak di dekat pertemuan dua sungai yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.
Borobudur telah mengalami beberapa rangkaian upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan internasional. Pasca pemugaran Borobudur secara besar-besaran pada tahun 1973, menurut UNESCO, pihak konservasi monumen ini telah mengidentifikasi tiga permasalahan penting dalam upaya pelestarian Borobudur, yaitu vandalisme atau kerusakan yang disebabkan oleh pengunjung; erosi tanah di bagian tenggara lokasi; analisis dan pemulihan bagian yang hilang.
Beberapa hal seperti tanah gembur, beberapa kali gempa bumi dan hujan deras dapat mengguncang struktur bangunan ini. Gempa bumi merupakan faktor yang paling serius, karena tidak hanya bebatuan yang dapat runtuh dan lengkungan yang runtuh, tanah itu sendiri juga bergerak dalam gelombang yang dapat merusak struktur bangunan.
Mencermati beberapa hal di Borobudur terkait kondisi bangunan yang rusak, termasuk kondisi stupa di teras Arupadhatu tertutup debu dan tanah. Semak dan pepohonan besar tumbuh di halaman sekitar gedung. Tanah yang menutupi bangunan sebagian besar telah dihilangkan dan dipindahkan di sekitar bukit. Reruntuhan batu pada bangunan ditempatkan di sekitar kaki candi.
Candi Borobudur sebagai salah satu peninggalan cagar budaya di Indonesia yang berupa bangunan candi. Pemeliharaan dan perlindungan candi Borobudur sebagai destinasi wisata tunggal di Indonesia dilakukan oleh Balai Studi Konservasi meliputi beberapa hal diantaranya untuk menanggulangi bencana alam akibat letusan gunung berapi, yang paling dekat adalah gunung Merapi. Gunung yang paling aktif di Jawa.
Sebagai bangunan agama Buddha yang terbesar, dan tersusun dari 55.000 meter kubik batu dengan kondisi batu dan tanah bukit yang tidak stabil, maka perlu pemeliharaan dan perlindungan pada Borobudur. Perlindungan dari runtuhnya batu bangunan candi, tanah bukit yang tidak stabil menyebabkan longsor, ancaman tumbuhan lumut dan kerak batu memberikan perhatian yang serius.
Selama beberapa dekade terakhir, setelah pemugaran Borobudur oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO, konservasi Borobudur dilakukan oleh Balai Studi Konservasi di Indonesia dan melibatkan dunia yaitu UNESCO. Untuk saat ini Balai Studi Konservasi menjadi Balai Konservasi Borobudur (BKB).
Secara keseluruhan, UNESCO telah mempelajari dan mengidentifikasi dengan serius yang berkaitan dengan rehabilitasi Borobudur yaitu tentang tiga permasalahan penting dalam upaya pelestarian bangunan ini. Disebutkan tiga hal yang meliputi hal-hal seperti vandalisme atau pengrusakan yang dilakukan oleh pengunjung, tidak stabilnya kondisi tanah yang menyebabkan erosi tanah pada bagian sebelah tenggara situs, dan analisis dan pengembalian bagian-bagian yang hilang.
Tanah liat berada pada curah hujan yang tinggi menjadi gembur, akibat beberapa kali gempa bumi, dan curah hujan dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi akibat letusan gunung berapi adalah faktor yang berdampak paling parah, karena tidak saja batu-batu dapat jatuh dan pintu gerbang pelengkung ambruk, tanah yang bergerak dan bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan.
Tradisi kebudayaan yang berhubungan dengan masyarakat Jawa bahwa tujuan untuk mendapatkan keberuntungan dengan menyentuh batu Borobudur telah meningkatkan popularitas salah satu stupa yang berada di tingkat atas yang berbentuk lingkaran, dengan tradisi menyentuh arca Buddha didalamnya telah menarik banyak pengunjung yang sebagian besar adalah untuk mendapatkan keberuntungan. Papan pengumuman tentang apa yang dilakukan selama berkunjung dan berada di bangunan.
Borobudur telah memberikan tulisan yang terdapat di beberapa teras banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga, hal-hal yang berhubungan dengan vandalisme seperti pengrusakan dan pencorat-coretan relif dan arca masih banyak terjadi, hal ini jelas akan merusak bangunan situs bersejarah ini.
Pada 27 Mei 2006, telah terjadi gempa yang berkekuatan 6,2 skala rikhter mengguncang pesisir pantai selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini telah menghancurkan beberapa wilayah sebelah selatan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, bencana tersebut tidak banyak berpengaruh pada candi Borobudur.
Pada 28 Agustus 2006, simposium bertajuk Trail of Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, hadir pada acara tersebut perwakilan dari UNESCO dan negara - negara yang mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja.
![]() |
Debu vulkanik dalam stupa Salah satu pembersihan stupa di tiga teras tingkat Arupadhatu, dari debu vulkanik paska letusan gunung Merapi tahun 2010 di Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Candi Borobudur terkena dampak parah akibat letusan Gunung Merapi pada tahun 2010, abu vulkanik menutupi bangunan dan mencapai ketebalan sekitar 25 sentimeter (10 in) menutupi bangunan candi pada saat letusan tanggal 3–5 November 2010. Debu vulkanik juga merusak dan membunuh tanaman di dekatnya, dan para ahli khawatir abu vulkanik secara kimiawi bersifat asam, sehingga dapat merusak bebatuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup dari tanggal 5 hingga 9 November 2010 untuk menghilangkan lapisan debu.
Pembersihan candi dari endapan abu vulkanik akan memakan waktu kurang lebih 6 bulan, kemudian melakukan penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem air dan drainase yang tersumbat oleh campuran abu vulkanik bercampur air hujan. Pemugaran berakhir pada November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.
Chandi Borobudur sangat terpengaruh oleh letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober dan November 2010. Abu vulkanik dari gunung Merapi jatuh di kompleks candi, yang berjarak sekitar 30 kilometer (18 mil) barat - barat daya kawah. Lapisan abu setebal 2,5 sentimeter (1 in) jatuh di atas patung candi selama letusan 3 – 5 November, juga membunuh vegetasi di dekatnya, dengan para ahli khawatir abu asam dapat merusak situs bersejarah tersebut.
![]() |
Pembersihan debu vulkanik Mencermati upaya rehabilitasi candi Borobudur setelah letusan gunung Merapi 2010, UNESCO menyumbangkan dana untuk mendanai upaya rehabilitasi pembersihan debu vulkanik. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Kompleks candi ditutup dari tanggal 5 hingga 9 November untuk membersihkan abu yang jatuh. UNESCO menyumbangkan US$3 juta sebagai bagian dari biaya untuk rehabilitasi candi Borobudur setelah letusan Gunung Merapi tahun 2010. Lebih dari 55.000 balok batu yang menyusun bangunan candi dibongkar untuk memulihkan sistem drainase yang tersumbat lumpur setelah hujan.
Pada Januari 2012, dua ahli konservasi batu Jerman menghabiskan sepuluh hari di lokasi untuk menganalisis candi dan membuat rekomendasi untuk memastikan pelestarian jangka panjangnya. Pada bulan Juni, Jerman setuju untuk memberikan kontribusi $130.000 kepada UNESCO untuk rehabilitasi tahap kedua, di mana enam ahli konservasi batu, mikrobiologi, teknik struktur dan teknik kimia akan menghabiskan waktu seminggu di candi Borobudur pada bulan Juni kemudian kembali untuk kunjungan lagi pada bulan September atau Oktober.
Misi ini akan meluncurkan kegiatan pelestarian yang direkomendasikan dalam laporan bulan Januari dan akan mencakup kegiatan peningkatan kapasitas untuk meningkatkan kemampuan pelestarian staf pemerintah dan ahli konservasi muda.
Pada Agustus 2014, Balai Konservasi Chandi Borobudur melaporkan adanya abrasi parah pada tangga batu yang disebabkan oleh gesekan alas kaki pengunjung. Otoritas konservasi berencana memasang tangga kayu untuk menutupi dan melindungi tangga batu asli, seperti yang dipasang di Angkor Wat.
![]() |
Rehabilitasi Borobudur Pembersihan dan pemasangan drenase pipa air. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Pada tanggal 14 Februari 2014, tempat-tempat wisata utama di Yogyakarta dan Jawa Tengah, termasuk candi Borobudur, candi Prambanan dan candi Ratu Boko, ditutup untuk pengunjung, setelah terkena dampak parah dari abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud di Jawa Timur, yang terletak di sekitar 200 kilometer timur dari Yogyakarta. Para pekerja menutupi stupa ikonik dan patung Borobudur untuk melindungi struktur dari abu vulkanik.
Candi Borobudur telah mengalami beberapa upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan kembali kejayaan dan kemegahan di masa lalu. Pemugaran pertama Candi Borobudur dipimpin oleh Theodore van Erp, dan dilaksanakan pada tahun 1907-1911 dan Pemugaran kedua dilaksanakan pada tahun 1973-1983, pemugaran yang terbesar digelar atas upaya kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO.
Menyelamatkan Borobudur
Borobudur di masa Pemugaran.
Lapisan debu dan tanah di stupa Borobudur Kondisi bagian Stupa sebelum pemugaran salah satu teras stupa Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Salah satu penghargaan atas situs purbakala Borobudur, dimulai sejak ditemukan kembali oleh Raffles tahun 1814. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telah menjadi sumber cenderamata sebagai bagian benda kuno. Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karena itu kini di Borobudur banyak ditemukan arca Buddha tanpa kepala. Perhatian pemerintah tumbuh secara perlahan untuk menyelamatkan Borobudur melalui pemugaran.
Pemugaran Borobudur
Borobudur kembali menarik perhatian pada tahun 1885, saat penggalian oleh Yzerman, yang menemukan kaki tersembunyi. Hasil penggalian berupa foto-foto yang memperlihatkan seluruh relief pada dinding kaki candi yang dibuat pada periode 1890-1891. Hasil penemuan tersebut mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengambil langkah selanjutnya dalam melestarikan Borobudur.
Dilihat dari komposisinya, batu-batu Borobudur merupakan material yang terletak di lingkungan terbuka yang sangat rentan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Pembersihan batu-batu bangunan dari lapisan tanah, semak-semak dan pepohonan mengakibatkan struktur dan susunan batu-batu tersebut tersingkap dan hal ini berinteraksi langsung dengan perubahan kondisi lingkungan.
Selain perubahan suhu, lingkungan, dan kelembapan, ancaman lainnya adalah interaksi dan pengaruh air. Air yang masuk dan menempel pada pori-pori batuan andesit akan menyebabkan kelembaban meningkat dan dapat mempercepat laju pelapukan. Selain material batuan, air yang masuk dan terperangkap di dalam tanah juga menyebabkan tanah menjadi jenuh dan mengakibatkan daya dukungnya menurun. Hal ini akan memicu terjadinya longsor dan kestabilan daya dukung tanah, mengingat letak struktur batu Borobudur yang berada di atas bukit.
Selain berbagai faktor alam yang menyebabkan kerusakan pada struktur batunya, Borobudur juga mengalami kerusakan akibat pembongkaran bangunan batu untuk mendapatkan barang antik yang mengakibatkan kondisi struktur batu tersebut hilang. Sebagaimana diketahui, stupa induk Borobudur pernah dibuka dengan tujuan untuk mencari kemungkinan ditemukannya benda-benda berharga di dalam stupa tersebut. Ternyata itu bukanlah sebuah benda berharga atau sejenis perhiasan, melainkan sebuah patung Buddha yang belum selesai atau tidak sempurna, yang berada di dalam stupa induk.
Beberapa upaya konservasi telah dilakukan seperti pembersihan gula dan akar pohon yang tumbuh di permukaan batuan dan sela-sela formasi batuan dengan menggunakan bahan kimia.
Bentuk seni gambar relief cerita Borobudur Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Upaya untuk menduplikasi relief dengan cara teknik abklats juga pernah dilakukan, dengan menggunakan semen, pembuatannya sesuai pada relief dinding candi, dengan semen dan bahan kimia.
Selanjutnya observasi, dokumentasi dan upaya konservasi dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1900 dengan membentuk komisi yang terdiri dari tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, seorang insinyur konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.
Pada tahun 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga tahap rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang ada harus diatasi dengan menata ulang sudut-sudut bangunan, dengan membuang dan membuang batu-batu yang membahayakan batu-batu lain di sebelahnya, serta memperkuat langkan pertama, dan memulihkan beberapa relung, lengkungan, stupa, dan restorasi bangunan stupa utama.
Kedua, memagari pekarangan candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, seluruh batu yang lepas harus disingkirkan, tugu dibersihkan hingga langkan pertama, pecahan batu disingkirkan, dan stupa induk dipugar. Total biaya yang dibutuhkan saat itu diperkirakan sekitar 48.800 Gulden.
Catatan Singkat Pemugaran Borobudur
Salah satu penghargaan atas situs purbakala Borobudur, dimulai sejak ditemukan kembali oleh Raffles tahun 1814. Perhatian pemerintah tumbuh secara perlahan untuk menyelamatkan Borobudur melalui pemugaran.
Pemugaran Van Erp
Theodor Van Erp merupakan salah satu sosok yang tidak lepas dari perjalanan panjang Candi Borobudur hingga saat ini. Tokoh yang lebih dikenal dengan nama Van Erp ini merupakan pelopor pemugaran Candi Borobudur pertama pada tahun 1907 – 1911. Van Erp yang lahir di Ambon pada tanggal 26 Maret 1874 ini tidak hanya dikenal di dunia kepurbakalaan dan arkeologi, namun masyarakat luas juga mengenal sosok ini. Latar Belakang Van Erp sendiri adalah seorang militer yang bertugas dan menghabiskan sebagian besar waktunya menyelamatkan Candi Borobudur.
Theodore Van Erp Van Erp merupakan pelopor pemugaran Candi Borobudur pertama pada tahun 1907 – 1911. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Pelopor pertama dalam pembukaan batu-batu Borobudur setelah untuk waktu yang lama tertutup semak dan debu vulkanik, sehingga bangunan ini terbengkalai. Borobudur mendapat perhatian serius oleh Van Erp dengan melaksanakan pemugaran. Kemudian pada tahun 1907 pemugaran dimulai oleh Van Erp dengan waktu penyelesaian kurang lebih 4 tahun.
Proses restorasi yang dilakukan oleh Van Erp dirinci dengan perkiraan biaya dan menggunakan alur yang sistematis. Pemugaran dilakukan dari tahun 1907 hingga 1911 dengan menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin oleh Theodor van Erp. Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di sekitar monumen untuk menemukan kepala Buddha dan panel batu yang hilang. Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga platform lingkaran atas dan stupa.
Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; dia mengajukan proposal lain, yang disetujui dengan tambahan biaya sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, dengan hati-hati memasang kembali chattra (payung yang terbuat dari tiga tumpukan batu), yang merupakan mahkota di puncak Borobudur. Sekilas, Borobudur telah pulih ke masa kejayaannya. Namun, instalasi chattra tidak dapat dianggap sebagai bentuk aslinya, sehingga Van Erp membongkar kembali bagian chattra. Kini mastaka tiga tingkat atau puncak chattra Borobudur disimpan di Balai Konservasi Borobudur.
![]() |
Chatra Pinnacle stupa induk Borobudur Chattra (payung batu tiga tingkat) yang menjadi mahkota puncak Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Meneliti masalah teknis yang terjadi pada pemugaran Van Erp adalah deformasi air dan keberadaan tanah bukit tempat bangunan ini dibangun. Masalah air ini sangat terlihat berdampak cukup besar terhadap tingkat pelapukan batu-batu penyusun bangunan ini, terutama pada batu dinding-dinding relief. Posisi dan letak batu-batu yang berada di dinding akan berinteraksi langsung dengan lapisan tanah perbukitan yang sangat rentan terhadap rembesan air tanah bukit. Kemudian rembesan air yang keluar melalui celah-celah batu dapat mengakibatkan penggaraman.
Hal ini merupakan salah satu upaya penanggulangan dalam mengatasi masalah rembesan air dan merupakan tujuan utama dalam pemugaran Van Erp. Maka pekerjaan awal dalam pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp adalah upaya mengembalikan letak batu-batu ke tempat semula. Dalam proses pencocokan batu-batu ini Van Erp menggunakan metode Anastilosis, yaitu proses pencocokan batu dalam metode anastilosis dengan aktifitas tidak memperbolehkan interpretasi bentuk struktur batu-batu tanpa menemukan sambungan pada material batu aslinya. Perbandingan tersebut didasarkan pada struktur dan susunan batu yang ada.
Pemugaran pada zaman Van Erp dengan metode anastilosis merupakan upaya untuk mengembalikan komponen struktur dan arsitektural Borobudur dengan tetap menjaga prinsip keaslian dan keutuhan sehingga saat ini kita dapat melihat keutuhan dan kemegahan aspek struktur dan arsitekturalnya. Upaya pemasangan mortar pada bagian celah batu dimaksudkan untuk mengurangi volume air yang masuk ke dalam struktur tanah bukit candi. Kondisi kelebihan air yang masuk ke dalam struktur tanah perbukitan akan menyebabkan tanah menjadi penuh, jenuh air dan daya dukungnya menurun, sehingga rawan longsor. Upaya meminimalisasi dampak air terhadap kondisi pemeliharaan dan ancaman terhadap struktur candi juga diterapkan pada selasar dan undakan.
Beberapa hal yang dilakukan dalam pemugaran Van Erp antara lain penguatan struktur pada anak tangga dan jalan setapak, serta dinding dan lantai teras atas (dataran tinggi). Lantai teras yang miring dan cekung ditutup dengan lantai khusus baru, dan dinding teras yang cekung diratakan dengan semen mortar. Lantai lorong yang tenggelam ditutupi dengan lantai baru khusus. Pada celah batu di lantai lorong yang tidak pecah, ditutup dengan adukan semen.
Chandi Borobudur Pemugaran I (1907-1911) pemugaran pada bagian puncak candi yaitu tiga teras melingkar dan stupa induknya. Candi Borobudur setelah pemugaran Van Erp. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun hingga saat ini, hasil pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp bertahan hingga saat ini, terutama pada bagian lorong dan lantai dataran tinggi. Hasil pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp merupakan bentuk tanggap darurat untuk menyelamatkan sisa-sisa masa lampau yang memiliki nilai universal yang luar biasa.
Upaya pemugaran komponen struktur dan arsitektural Candi Borobudur cukup berhasil dan bertahan hingga saat ini. Prinsip pengembalian bentuk sesuai desain asli dan minim intervensi penggunaan material baru telah diterapkan pada era Van Erp, dan ini merupakan tonggak pertama bagaimana prinsip restorasi warisan budaya di Indonesia dipelajari dan diterapkan.
Restorasi Van Erp juga menjadi titik awal pengenalan dan penerapan metode pencocokan batu yang disebut metode Anastilosis. Dimulai dari tahap persiapan, perencanaan awal yang dilakukan dengan skema yang detail, pemugaran Van Erp sudah diperhitungkan dengan matang dan detail. Prinsip mempertahankan bentuk asli merupakan hal utama yang mendasari segala penanganan dan rekonstruksi Candi Borobudur.
Restorasi UNESCO dan Pemerintah Indonesia
Renovasi dan restorasi skala kecil telah dilakukan sejak saat itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang lengkap terhadap Borobudur. Dari beberapa catatan disebutkan bahwa sebelum pemugaran Borobudur yang kedua, telah dilakukan penelitian dan penggalian arkeologi untuk lebih mengetahui aktivitas-aktifitas tentang keagamaan yang pernah dilakukan di sekitar Borobudur. Dalam penggalian di sekitar candi, menemukan sisa-sisa batu bata dan berbagai artefak penting. Menurut para ahli menjelaskan bahwa dahulu terdapat bangunan vihara yang berada dekat dengan Borobudur.
Mencermati pemugaran pertama oleh Van Erp, sebenarnya masih terdapat beberapa kekurangan seperti dinding miring dan penanganan masalah air. Pada dasarnya pemugaran ini bertujuan untuk mengatasi kerusakan pada bagian kaki candi atau bagian Kamadhatu dan pada bagian atap atau tingkat Arupadhatu. Sedangkan bagian tubuh atau tingkat Rupadhatu tidak sepenuhnya dapat dipulihkan.
Pemerintah memiliki perhatian serius terhadap Candi Borobudur pada masa pemerintahan Sukarno yang memiliki rencana untuk memperbaiki dan pemugaran Borobudur. Pada tahun 1960, dirintis gagasan untuk mengatasi masalah air dan merancang saluran air dengan membuat aliran satu arah. Pada akhir tahun 1963, beberapa persiapan seperti pembuatan gambar dan sketsa, mulai dilakukan untuk mengidentifikasi kerusakan pada Borobudur.
Pada akhir 1967, pemerintah Indonesia menyampaikan kepada internasional tentang beberapa permasalahan yang ada di Borobudur, untuk membantu Indonesia dalam upaya penyelamatan dan pemugaran guna melindungi monumen ini. Permintaan secara internasional untuk menggelar proyek pemugaran Borobudur yang dilaksanakan pada tahun 1973, untuk membuat rencana induk pemugaran Borobudur. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk memperbaiki total monumen ini dalam proyek besar antara tahun 1975 dan 1982.
Fondasi diperkuat dan 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar kelima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menyematkan saluran air ke dalam bangunan. Filter dan lapisan kedap air ditambahkan.
Cagar Budaya Borobudur
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Buddha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, adalah suatu bentuk apresiasi dan turut serta dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.
Barabudur atau Borobudur adalah candi atau bangunan suci Buddha Mahayana dengan arsitektur berbentuk stupa piramida berundak, yang didirikan oleh Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra.
Chandi Borobudur, candi megah dan kurang dikenal - gunung kebajikan - pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.
Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Arca Budha didalam stupa terbuka. Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. Chandi Borobudur or Barabudur is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Dalam narasi sejarah Borobudur disebutkan ukiran panil relif yang terpahat pada dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki yang disebut dengan 'Upanat' kepada Brahmana.
Menjelaskan 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan dalam kunjungan menaiki teras-teras bangunan Candi Borobudur, kunjungan saat ini dengan tujuan untuk lebih mengenal Candi Borobudur belajar mengetahui sejarah, berwisata tematik dan mengagumi kemegahan dan seni rupa ukiran Candi Borobudur, yang merupakan salah satu wujud apresiasi dalam pembelajaran, mengenal lebih dekat, dan ikut serta untuk memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia yang berada di Borobudur Indonesia.
Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai destinasi wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari salah satu situs warisan dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan mengantar dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai apresiasi untuk pembelajaran dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan penting dalam sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata superprioritas. Dibukanya kembali bangunan ini untuk wisata, merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan ini dalam perjalanan wisata tematik Borobudur.
Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan untuk lebih mengenal lebih dekat Borobudur dalam belajar mengetahui sejarah, berwisata tematik dan mengagumi kemegahan serta keindahan nilai seni arsitektur, yang merupakan salah satu wujud apresiasi dalam pembelajaran dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia yang berada di Borobudur Indonesia.
Pada kesempatan yang menyenangkan menjelajahi kebudayaan leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar mengetahui potensi kawasan Chandi Borobudur.
Wisata aktivitas kriya / batik / nursery. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Berada di Borobudur
Selamat datang di Borobudur atau namanya disebut-sebut Barabudur, candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.
Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
Borobudur atau Barabudur, candi suci umat Buddha. Candi Budha Mahayana terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras bujur sangkar dan tiga teras lingkaran, serta terdapat stupa terbesar berada ditengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
CANDI BOROBUDUR
Purnapugar Candi Borobudur tahun 1973-1983, menjadikan Candi Buddha Borobudur terdaftar masuk sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage List), Nomor 592 Tahun 1991. Status Candi Borobudur termasuk dengan dua candi lainnya yaitu Candi Mendut dan Candi Pawon, selain sebagai warisan budaya dunia pengelolaan bangunan ini juga sebagai Obvitnas, KSN, dan KSPN. Candi Borobudur masuk sebagai salah satu dalam kawasan cagar budaya peringkat nasional setelah pemugaran tahun 1983. Bangunan ini, menjadikan kebanggaan bagi bangsa Indonesia, Candi Borobudur menjadi ikon pariwisata Indonesia, menjadi daya tarik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk pemanfaatan candi Borobudur untuk keperluan keagamaan, ilmu pengetahuan, pendidikan, sosial, budaya dan pariwisata. Borobudur sebagai tujuan wisata SUPERPRIORITAS dan KSPN sehingga Borobudur menjadi ikon destinasi kunjungan wisata tunggal di Indonesia. Merencanakan dan promosi untuk mendatangkan pengunjung ke kawasan Borobudur dapat mencapai dan mendatangkan 2 juta wisatatawan mancanegara, dengan mengelola dan pembangunan infrastruktur di kawasan candi Borobudur.
Kriteria OUV Chandi Borobudur masuk sebagai kriteria budaya. Hal-hal yang mencakup kriteria budaya adalah sebagai betikuy:
KRITERIA OUV: BUDAYA
i. Mewakili suatu mahakarya (masterpiece) kejeniusan kreatif manusia;
ii. Menunjukkan pentingnya pertukaran nilai-nilai kemanusiaan, dalam suatu rentang waktu atau dalam suatu kawasan budaya di dunia, dalam pengembangan arsitektur atau teknologi, karya monumental, tata kota atau desain lanskap;
iii. Memiliki keunikan atau sekurang-kurangnya testimoni luar biasa terhadap tradisi budaya atau peradaban yang masih berlaku maupun yang telah hilang / punah;
iv. Merupakan contoh luar biasa dari suatu jenis bangunan, arsitektural atau himpunan teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia;
v. Merupakan contoh luar biasa tentang pemukiman tradisional manusia, tata-guna tanah, atau tata-guna kelautan yang menggambarkan interaksi budaya (atau berbagai budaya), atau interaksi manusia dengan lingkungan, terutama ketika pemukiman tersebut menjadi rentan karena dampak perubahan yang menetap (irreversible);
vi. Secara langsung atau nyata berkaitan dengan peristiwa atau tradisi yang berlaku, dengan gagasan, atau dengan keyakinan, dengan karya seni dan sastra yang memiliki nilai universal yang signifikan (komite menganggap bahwa kriteria ini sebaiknya digabungkan dengan kriteria lain);
KRITERIA OUV: BUDAYA CHANDI BOROBUDUR
Kriteria (i):
Kompleks Candi Borobudur dengan pyramid berundak tanpa atapnya yang terdiri dari sepuluh teras berurutan keatas, bermahkotakan oleh sebuah kubah berbentuk genta besar merupakan sebuah mahakarya arsitektur dan seni monumental Buddhisme.
Kriteria (ii): Kompleks Candi Borobudur merupakan sebuah contoh luar biasa dari seni dan arsitektur Indonesia dari masa antara awal abad ke-8 dan akhir abad ke-9 yang memberikan pengaruh yang besar bagi kebangkitan arsitektural pada masa antara pertengahan abad ke-13 dan awal abad ke-16.
Kriteria (vi): Mempunyai bentuk sebuah teratai, bunga suci agama Buddha, Kompleks Candi Borobudur merupakan sebuah releksieksepsional dari perpaduan antara ide asli paling utama tentang pemujaan nenek moyang dan konsep Buddhisme dalam mencapai Nirwana. Sepuluh teras berundak dari keseluruhan struktur selaras dengan tahapan yang harus dicapai oleh Bodhisatwa sebelum mencapai Ke-Budha-an.
Relief Candi Borobudur
Relief cerita pada dinding - dinding Candi Borobudur berjumlah 1.460 adegan, yang terdiri dari relief dekoratif (hiasan) berjumlah 1.212 pigura, dan seluruhnya tersusun dalam 11 deret yang mengelilingi bangunan. Sebagian besar seluruh relief yang ada di Borobudur merupakan rangkaian relief yang mempunyai jalan cerita yang terdiri atas gambaran dewa, manusia, binatang, pohon, bangunan rumah, dan lain-lain. Relief Candi Borobudur mampu menghadirkan suasana tertentu sehingga bagaikan kumpulan kitab suci, Candi Borobudur mengabadikan isi kitab suci secara visual dimulai dari bagian kaki candi sampai dengan dinding lorong tingkat 1-4. Gambaran yang dipahatkan pada relief Karmawibhangga diperoleh dari kenyataan realita hidup sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad VIII – IX Masehi. Relief Karmawibhangga menyimpan banyak informasi, diantaranya kondisi flora fauna, lingkungan alam, status sosial, bentuk pakaian, alat musik, alat upacara, mata pencaharian, peranan wanita, dan masih banyak lainnya.
| Lokasi relief. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.
| RELIEF CERITA Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Atribut Borobudur sebagai warisan budaya dunia meliputi sebagai berikut: Struktur batu andesit sebagai bangunan monumen agama Buddha yang dibangun pada abad VIII – IX M dari Dinasti Sailendra, Arsitektural candi dan stupa, motif pahatan, relief naratif dan simbolis pada bidang candi, dan lorong galeri, Konsep filosifis Buddha untuk mencapai nirwana pada 10 tingkatan struktur candi, Hubungan dari ketiga candi yaitu Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon dalam satu garis imajiner beserta prosesi yang masih ada sampai sekarang, Lanskap alam dan budaya (sungai, sawah, danau purba, rumah pedesaan, dan lingkungan pedesaan).
Atribut pedesaan Jawa Kuna meliputi beberapa hal sebagai berikut: Atribut lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuna berupa sawah (savah), sawah pasang surut (rénék), sawah tadah hujan (gāga), ladang/ tegalan (tgal), kebun (kbuan), hutan (alas), gunung dan bukit, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, serta pembuatan tembikar, Alat yang digunakan untuk mengenali interpretasi atribut tersebut adalah relief dan prasasti.
Menengok kehidupan masyarakat Jawa Kuno, dalam budaya pertanian dan pengolahan makanan dan minuman. Atribut lansekap pedesaan Jawa Kuno meliputi beberapa cakupan yang lebih kepada daerah tempat berada pada lingkungan pertanian / pengelolaan lahan. Pada candi Borobudur terdapat panil relief cerita mengenai relief pertanian. Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi lingkungan persawahan, diantaranya menyebutkan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah Tadah hujan, Ladang / tegalan, Kebun dan Hutan. Pada lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa lingkungan sawah dijelaskan dalam pengelolaanya, yaitu bahwa sawah oleh masyarakat Jawa Kuna pada abad IX-X Masehi, mempunyai tujuan tidak hanya dikelola untuk kebutuhan pribadi saja, tetapi juga untuk kebutuhan dalam menghidupi suatu bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Penetapan sawah tersebut sebagai sima adalah karena, sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan kepada suatu daerah.
Makanan pokok masa Jawa Kuno disebutkan dalam lingkungan pertanian pada masa itu lebih pada pengolahan padi sebagai bahan makanan pokok. Pada saat itu masyarakat Jawa Kuna telah mengenal cara-cara mengolah beras menjadi nasi, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang diliwet dengan periuk, dyun adalah belanga atau kuali besar (periuk) yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak sayur atau menanak nasi.
| Relif membajak sawah. Panil relief cerita mengenai relief pertanian pada Candi Borobudur, juga terdapat pada Kaki candi yang tertutup, sisi sebelah Timur. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Relief Tanaman Borobudur
Beberapa tanaman yang ada di relief Borobudur pada konteks tanaman didaerah pemukiman yaitu: Biola cantik, jambu biji, kamboja, keben, Kelapa, keluwih, ketapang, lontar, mangga, manggis, nangka, nyamplung, Padi budidaya, pinang sirih, pisang, pohon bodi, rumput gajah, sukun, tanjung, teratai.
| Tanaman pada relif candi Borobudur. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Tanaman di relief Lalitavistara
Beberapa tanaman yang ada di relief Borobudur, mengambil relief cerita Lalitavistara pada konteks tanaman didaerah hutan dengan jenis tanaman yang meliputi: Bodhi, jambu, Jarak, kamboja, keben, ketapang, Mangga, Nagasari, Nangka, Nyamplung, Pisang, rumput gajah, sukun, Waru.
| Tanaman di relief Lalitavistara Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Tanaman pangan
Dalam prasasti dan naskah kesusastraan Jawa Kuna disebut berbagai jenis nasi, antara lain sĕgā lalab, vĕas kukusan, skul dākdannan, skul dinyun, dan skul matiman Jagung, kedelai, ketela pohon, kacang panjang, Gaḍuń, suweg, dan talĕs merupakan jenis umbi-umbian yang dikenal oleh masyarakat Jawa Kuna.
| Tanaman Buah Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Tanaman Buah
Beberapa tanaman yang ada di relief Borobudur pada jenis tanaman buah diantaranya meliputi: sunkun atau sukun dan jruk, limo, atau jeruk, dan mayang. Jenis buah lain seperti yang disebut dalam naskah Ramayana Jawa Kuna maupun prasasti, diantaranya adalah jambu, sukun, mangga, manggis, jeruk, rambutan, pisang, kelapa, nangka, duku, dan duwet.
| Tanaman untuk minuman Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Tanaman penghasil serat
Menyebutkan penjelasan salah satu berita Cina yang beradal dari Dinasti Sung antara tahun 960-1279 Masehi, yang menyebutkan bahwa masyarakat Jawa Kuna pada saat itu telah mengenal pembudidayaan ulat sutera untuk membuat kain sutera. Mereka telah mampu menghasilkan sutera tipis, kain sutera berwarna kuning, dan membuat pakaian dari kapas. Kain sutera seperti yang disebut dalam Berita Cina agaknya merupakan komoditas perdagangan, dikarenakan pakaian adalah kebutuhan kedua setelah makanan. Berdasarkan dari prasasti Jawa Kuna abad IX-X M jenis pakaian maupun kain yang sudah dikenal saat itu, di antaranya kalamwi atau kalamvi, wdihan atau vdihan, sińhel, dan kain atau ken.
Tanaman pewarna
Tanaman pewarna, sebagai bahan pewarna untuk beberapa bahan telah mengenal beberapa pekerjaa yang dikenal dengan beberapa profesi yang berkaitan dengan aktivitas pewarnaan, seperti manglākha, mañambul, manula vungkudu, maupun mamukat vungkudu. Pada prasasti Jawa Kuna abad IX-X M memberikan gambaran bahwa bahan pewarna sudah berkembang. Vungkudu sebagai pewarna merah, nila sebagai pewarna biru atau hitam adalah dua jenis tanaman yang digunakan sebagai pewarna.
Pengolahan pangan/kuliner
Masyarakat Jawa Kuna telah mengenal cara-cara mengolah beras menjadi nasi, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang diliwet dengan periuk, dyun adalah belanga atau kuali besar (periuk) yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak sayur atau menanak nasi. Beberapa prasasti Jawa Kuna menyebutkan alat untuk menanak nasi yang disebut penanak nasi dandang besar dari logam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat cara menanak nasi dengan dandang.
Hidangan Nasi, Lauk, Makanan, Minuman Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Selain diolah sebagai makanan pokok, beras juga digunakan sebagai bahan minuman keras. Istilah brem yang disebut adalah sejenis minuman keras yang dibuat dari beras. Dodol, salah satu jenis makanan yang dikenal oleh masyarakat Jawa Kuna adalah dodol. Dwal-dwal adalah jenis makanan pada masa Jawa Kuna yang dibuat dari beras atau beras ketan dicampur dengan buah-buahan dan gula.
Pengolahan minuman
Minuman, tebu oleh masyarakat Jawa Kuna juga dikenal sebagai bahan dasar minuman beralkohol yang disebut siddhū. Siddhū atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada upacara penetapan sima, antara lain disebut dalam Prasasti Sangguran (928 M). Berita Cina Dinasti Tang (618-906 M) maupun Sung (960-1279 M) menyebutkan bahwa minuman yang digemari adalah minuman keras yang dibuat dari bunga kelapa (Cocos nucifera L) atau bunga dari jenis palempaleman.
Pengolahan Minyak
Minyak, istilah lĕnga, lga, lńa, atau lnga yang disebut pada beberapa prasasti adalah minyak yang dibuat dari tanaman. Dalam hal ini, minyak kelapa adalah salah satu jenis minyak yang dimaksud. Minyak kelapa digunakan untuk memasak dan penerangan. Menurut Sarkar 1972, penyebutan lĕnga dapat dibuat dari biji wijen, yang digunakan untuk mengolah makanan. Lnga sebagai hasil olahan tanaman juga merupakan komoditas dagangan yang dijual dengan cara dipikul (pinikul dagang) yang dikenai pajak.
| Memasak obat/jamu Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pengolahan hewan (sembelih kambing) Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Relief hewan
Selain relief tanaman pada dinding dan pagar langkan Candi Borobudur juga terpahat berbagai jenis binatang antara lain berupa berbagai jenis burung, ikan, kura-kura, gajah, monyet, kuda, kelinci, rusa, ular, kelinci, labi-labi, kambing dan lain sebagainya.
Relief alat transportasi
Alat atau sarana transportasi laut dan darat digambarkan dalam relief di Candi Borobudur, berupa perahu atau kapal cadik sebagai transportasi laut sementar itu untuk tranportasi darat digambarkan dengan kereta ataupun hewan tunggangan.
Aktivitas
Aktivitas yang dijumpai selain mengolah lahan, mengolah tanaman pangan, mengolah hasil ternak ataupun ikan, memasak dan menyajikan, menari, memainkan musik, melawak, membuat gerabah juga terdapat aktivitas membuat gerabah, mengayam, juga aktivitas yang terkait dengan kesehatan seperti memijat dan meramu obat atau jamu. Jenis potensi yang berhubungan dengan beberapa hal-hal sebagai berikut: Tanaman / flora, Hewan / Fauna, Pengolahan lahan meliputi tradisional farming (relief sawah, padi tikus, bajak sawah), Rempah (jalur rempah), jamu, pijat spa, Kriya (mangayam); gerabah, Kuliner, Musik dan Tari. Jenis potensi interpretasi Candi Borobudur adalah Garis imajiner: Mendut – Pawon – Borobudur, Konsep keagamaan: Budha di atas lotus, Sungai Gangga Yamuna (Progo/ Elo), Pembentukan sejarah geologi: danau purba, air asin.
Potensi wisata interpretasi
Dihubungkan narasi yang menarik (storytelling) antara Candi Borobudur dan objek yang berpotensi, seperti tema atau pola perjalanan wisata (Travel Patern) meliputi beberapa hal diantaranya yaitu: menikmati Borobudur tidak harus menaiki struktur Candi Borobudur, Spiritual / Religi / Keagamaan, Storytelling terkait garis imaginer Mendut–Pawon Borobudur, Budha di atas lotus, Sungai Gangga / Yamuna (Progo-Elo), Borobudur sebagai Meru; meditasi dan sebagainya, Kesehatan / Kebahagiaan / Ketenangan, Pengolahan hasil tanaman pangan / hewan secara tradisional (kuliner, cooking class), (Wellness; Body & Soul) Wellness / body & Soul / rempah / jamu / massage / spa / yoga / meditasi.
| Traditional Farming (Pengolahan Lahan/Sawah secara tradisional). Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
| Flora/Fauna/Wisata agronomi Fauna/satwa. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
| Pengolahan hasil tanaman pangan/hewan secara tradisional (kuliner, cooking class). Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
| Wellness / body & Soul / rempah / jamu / massage / spa / yoga / meditasi. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
| Wisata aktivitas kriya/batik/nursery. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
| Menari Rhythm/Musik. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
| Tema lainnya Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Toponimi
Nama-nama desa atau lokasi di kawasan yang dapat dihubungkan dengan sejarah keberadaan Candi Borobudur, Sport (jemparing), Potensi wisata interpretasi berdasarkan lansekap / geologi, Konstelasi perbintangan, Maritim (alat trasportasi, nelayan, dan lainnya), Perjalanan bebatuan untuk Candi Borobudur (Journey of the stones), Love story (Kisah Cinta), Ancient Kingdom.
Berada di Borobudur
Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
Selamat Datang di Bhumisambharabhudhara. Warisan Budaya Dunia UNESCO, chandi Buddha terbesar didunia. Sumber: foto arisguide, Guiding Technique Chandi Borobudur arisguide. |
![]() |
Kebudayaan Borobudur adalah candi Borobudur, berasal dari kata 'biara - bedudur' yang kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Teknik Pemandu Wisata Chandi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.











No comments:
Post a Comment