Sunday, May 15, 2022

Situs-situs purbakala sekitar candi Borobudur

Menjelajahi Situs Purbakala

Selamat datang, sangat senang dengan perjalanan yang akan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur, sebagai destinasi wisata utama di Indonesia. Bangunan ini merupakan bagian dari salah satu situs warisan dunia sejak tahun 1991. Keramahan pemandu wisata, pada kesempatan ini akan mengantar dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai apresiasi untuk pembelajaran dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.

Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki nilai luhur dan penting dalam sejarah bagi bangsa Indonesia, yang membuat semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata superprioritas. Dibukanya kembali bangunan ini untuk wisata, merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk menjelajahi beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan ini dalam perjalanan wisata tematik Borobudur.

Wisata dan kunjungan saat ini dengan tujuan untuk lebih mengenal lebih dekat Borobudur dalam belajar mengetahui sejarah, berwisata tematik dan mengagumi kemegahan serta keindahan nilai seni arsitektur, yang merupakan salah satu wujud apresiasi dalam pembelajaran dan ikut serta dalam mengenal, memelihara dan melindungi situs warisan budaya dunia yang berada di Borobudur Indonesia.

Pada kesempatan yang menyenangkan menjelajahi kebudayaan leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sekaligus belajar mengetahui situs-situs purbakala di kawasan Chandi Borobudur.

Situs Plandi
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Berada di Borobudur

Selamat datang di Borobudur atau namanya disebut-sebut Barabudur, candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.

Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.

Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.

Selamat Datang di Borobudur
Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Borobudur

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.

Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.


Candi Borobudur
Candi Budha Mahayana terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras bujur sangkar dan tiga teras lingkaran, serta terdapat stupa terbesar berada ditengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Menurut sejarah, Chandi Borobudur ditinggalkan pada abat ke-14, dan ditemukan kembali pertama kali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa. Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan Borobudur sebagai bangunan suci umat Buddha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Buddha untuk mencapai tingkat tertinggi adalah nirwana.

Stupa diteras melingkar Arupadhatu, pemandangan dari stupa induk.
Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Borobudur, artinya candi atau biara di atas bukit. Candi Budha Mahayana terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras bujur sangkar dan tiga teras lingkaran, serta terdapat stupa terbesar berada ditengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.

Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.

Menjelaskan hubungan keterkaitan Candi Borobudur dengan tiga candi lainnya yaitu Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen, tidak lepas dari beberapa hal seperti ketiga candi tersebut mempunyai hubungan dengan Borobudur dalam aksis imaginer sebagai candi utama. Ketiga candi mempunyai arah menghadap dengan perbandingan arah sudut menuju ke Borobudur. Menjelaskan bahwa ketiga candi mempunyai beberapa persamaan dalam elemen-elemen arsitektural, arca Singa, pelipit bergerigi, relief Jataka, dan arca Buddha.

CANDI PAWON
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

CANDI PAWON

Nama Candi Pawon tidak banyak disebutkan dan diketahui secara pasti tentang asal-usulnya. Menurut ahli epigrafi yang bernama J.G. de Casparis menafsirkan bahwa asal kata Pawon berasal dari bahasa Jawa yaitu "awu" yang berarti 'abu'. Kata abu mendapat awalan pa- dan akhiran -an, sehingga artinya menunjukkan suatu tempat. Dalam bahasa Jawa sehari-hari kata pawon berarti 'dapur', akan tetapi de Casparis mengartikannya sebagai 'perabuan' atau tempat abu. Penduduk setempat juga menyebutkan Candi Pawon dengan nama Bajranalan. Kata ini mungkin berasal dari kata bahasa Sanskerta vajra yang berarti 'halilintar' dan anala yang berarti 'api'. Candi Pawon berbentuk candi bujur sangkar yang menghadap kearah Barat, dengan ukuran dimensi dari sisi-sisi 9,5 m, dan memiliki tinggi 11,57 m. Pembangunan Candi Pawon diperkirakan kurang lebih pada sekitar pertengahan abad kedelapan, hampir bersamaan dengan pembangunan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Menurut J.G. de Casparis, Candi Pawon adalah tempat dimana abu dari Raja Indra yang telah memerintah Kerajaan Mataram Kuna pada tahun 782-812 Masehi. Candi Pawon dipugar pada tahun 1903. Menengok kedalam bilik atau ruangan pada candi ini, tidak dapat ditemukan lagi keberadaan sehingga sulit untuk mengidentifikasikan lebih jauh tentang kegunaan candi ini. Suatu hal yang menarik dari Candi Pawon ini yang masih dapat dilihat adalah ragam hiasnya. Pada dinding-dinding luar candi dihias dengan relief pohon hayati yaitu kalpataru yang diapit oleh pundi-pundi dan kinara-kinari yaitu mahluk setengah manusia setengah burung / berkepala manusia berbadan burung.

CANDI MENDUT
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

CANDI MENDUT

Dibangun sekitar abad VIII Masehi, berdasarkan prasasti Karangtengah. Candi Mendut didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Disebutkan dalam prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 Masehi, dijelaskan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut. Candi berbentuk segi empat dengan satu bilik dengan ukuran 24,15 m x 27,66 m dan tinggi 26,4 m. Pemugaran Mendut dilakukan selama tahun 1897 - 1904. Kemudian pada tahun 1908 dilakukan oleh Theodore van Erp. Setelah itu, pada tahun 1925 untuk pemasangan kembali stupa diatap candi. Bahan bangunan yang digunakan untuk membangun candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada suatu dataran yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Diatas dataran terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah. Ada tiga arca utama didalam ruangan / garbhaghriya. Arca-arca itu yaitu Sakyamuni, Awalokitecwara, dan Wajrapani. Relief-relief yang ada di Candi Mendut menggambarkan Jataka yaitu cerita tentang binatang. Hewan-hewan yang digambarkan di panel relief merupakan penjelmaan dari Bodhisattva yang turun ke Bumi dan mengajarkan moralitas pada manusia.

CANDI NGAWEN
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

CANDI NGAWEN

Bukti Candi Ngawen berlatar belakang agama Budha adalah temuan arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa di Candi II dan arca Dhyani Buddha Amithaba di Candi IV. Berdasarkan gaya arsitektur bangunannya, situs candi ini berdiri sekitar abad IX – X Masehi. Bentuk bangunannya memiliki ciri khas yang menjadi pembeda dengan candi lainnya. Yaitu dengan adanya hiasan patung singa pada keempat sudutnya. Sepintas hampir mirip dengan bangunan candi Hindu karena bentuknya yang meruncing keatas. Akan tetapi, mengamati dengan seksama, candi ini memiliki stupa dan teras (undak-undak) yang menjadi simbol dalam candi-candi Buddha. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh penguasa Kerajaan Mataram Kuno dari wangsa Sailendra pada abad ke-8. Menurut Soekmono keberadaan candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah bangunan suci yang tersebut dalam prasasti Karangtengah pada tahun 824 M, yaitu Venuvana dalam bahasa Sanskerta, yang berarti "hutan bambu".

Candi ini terdiri dari lima bangunan candi yang berukuran kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebentuk patung Buddha yang sudah tidak berkepala dengan posisi duduk Ratnasambawa tampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih tampak cukup jelas, diantaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara. Posisi hiasan Kinnara Kinnari mengapit Kalpataru. Kinnara dan Kinnari menggambarkan mahkluk kahyangan yang berwujud setengah manusia dan setengah burung. Sedangkan Kalpataru merupakan pohon kahyangan yang hidup sepanjang masa tempat dimana menggantungkan segala asa. Pohon ini digambarkan memiliki dahan-dahan yang diartikan sebagai untaian perhiasan yang indah, sehingga dijaga makhluk-makhluk kahyangan seperti Kinara Kinari.

Penelitian Candi Ngawen salah satunya oleh peneliti asal Belanda, Van Erp yang memulainya pada tahun 1920. Ia memulai ekskavasi candi dengan mengeringkan lahan sawah tempat penemuan pertama kali candi tersebut. Sekarang, sekeliling candi ini terdapat hamparan sawah-sawah yang menawarkan keindahan tersendiri. Kelompok candi terdiri dari lima bangunan yang disusun secara berdampingan dari arah Utara ke Selatan. Dari kelima bangunan tersebut hanya ada satu candi yang utuh yaitu candi ke 2 dari Utara, sedang keempat candi yang lain hanya tinggal bagian kaki candinya. Arsitektur Candi terdiri dari 3 bagian yakni kaki candi, badan (tubuh) candi dan atap candi. Bentuk kaki candi 4 persegi panjang dengan ukuran antara 8,54 m x 10,84 m dan 12,88 x 15,89 m. Tiap candi memiliki tangga masuk di sebelah timur.

Candi Ngawen dibangun sekitar abad VIII – IX M yaitu pada dinasti Sailendra. Salah satu keunikan dari benda cagar budaya yang satu ini, yaitu keberadaan 4 buah arca singa di setiap sudut Candi II dan Candi IV. Kompleks candi tersebut terdiri dari 5 buah candi yang berderet sejajar dari utara ke selatan. Bangunan Candi Ngawen semuanya menghadap kearah timur. Berturut-turut dari arah selatan Candi Ngawen I, II, III, IV dan V dengan masing-masing berdenah bujur sangkar. Candi II dan IV memiliki ukuran dan bentuk konstruksi yang sama. Daya tarik lainnya, terletak pada seni arsitektur candi ini dari temuan arca singa yang menopang empat sisi bangunan candi yang berhasil direkonstruksi dari 5 bangunan yang ada. Gaya ukiran arca singa ini menyerupai lambang singa pada negara Singapura dan berfungsi mengaliri air hujan yang keluar lewat mulut arca. Dari kelima candi yang terdapat di kompleks Candi Ngawen, hanya Candi II yang telah selesai pemugaran pada tahun 1927. Sehingga mempunyai komponen yang paling lengkap. Empat candi yang lain hanya tinggal Khaki. Dari semuanya, ada yang terparah yakni Candi I, hanya tinggal pondasi.

Situs Purbakala Kawasan Borobudur

Penggalian beberapa peninggalan cagar budaya disekitar kawasan Borobudur, telah menemukan beberapa situs-situs cagar budaya peninggalan pada masa Mataram Jawa Kuno abad ke-8 - 9 Masehi. Situs peninggalan cagar budaya yang ditemukan di kawasan Borobudur menurut Balai Konservasi Borobudur merupakan situs peninggalan masa Hindu - Budha. Situs-situs cagar budaya selain Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen, diantaranya adalah Situs Brongsongan, Situs Dipan, Situs Bowongan, Situs Samberan, Situs Plandi, dan Situs Kerkhoff Mendut.

Situs Brongsongan
Situs Brongsongan adalah salah satu situs yang ditemukan di kawasan Borobudur. Situs ini berlatarbelakang atau bercorak keagamaan Hindhu dengan data arkelogi dari masa klasik, mempunyai lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Tinggalan budaya berupa struktur bata yang berasosiasi dengan Lingga-Yoni dan arca Hindhu.

SITUS BRONGSONGAN
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Situs Dipan
Situs Dipan adalah salah satu situs yang ditemukan di kawasan Borobudur. Situs bercorak keagamaan Buddha dengan data arkelogi dari masa klasik, mempunyai lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Tinggalan budaya berupa struktur bata yang berasosiasi dengan ornament kemuncak berupa Stupa dan arca Buddha.

SITUS DIPAN
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Situs Bowongan
Situs Bowongan adalah salah satu situs yang ditemukan dikawasan Borobudur. Situs bercorak keagamaan Hindhu dengan data arkelogi dari masa ;, mempunyai lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Tinggalan budaya berupa struktur bata yang berasosiasi dengan Lingga-Yoni dan arca Hindhu.

Situs Bowongan
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Situs Samberan
Situs Samberan adalah salah satu situs yang ditemukan dikawasan Borobudur. Situs bercorak keagamaan Hindhu dengan data arkelogi dari masa klasik, mempunyai lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Tinggalan budaya berupa struktur bata yang berasosiasi dengan Lingga-Yoni dan arca Hindhu.

Situs Samberan
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Situs Plandi
Situs Plandi adalah salah satu situs yang ditemukan dikawasan Borobudur. Situs bercorak keagamaan Hindhu dengan data arkelogi dari masa klasik, mempunyai lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Tinggalan budaya berupa struktur bata yang berasosiasi dengan Lingga-Yoni dan arca Hindhu.

Situs Plandi
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Pada tahun 2016, warga melaporkan keberadaan prasasti didekat lokasi yoni. Prasasti ini berukuran tinggi 50 cm, lebar atas 38 cm, lebar bawah 41 cm dan tebal 9,5 cm, dengan bagian depan berisi 8 baris dan bagian belakang lima baris yang telah aus. Prasasti saat ini disimpan di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Berdasarkan metode transkripsi dan transliterasi prasasti ini menginformasikan peresmian sima berupa sawah yang diinagurasi pada tanggal 30 November 869 M oleh Rakai Sirat atau Sirak dan guru pendeta kuil.

Kerkhoff Mendut
Kerkhoff Mendut adalah salah satu situs cagar budaya yang berada di sebelah timur candi Borobudur,  tepatnya sebelah timur candi Pawon dan masih masuk di kawasan Borobudur. Keberadaan makam dari masa Hindia Belanda ini tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sekolah Katolik putri yang pernah berdiri di sebelah Candi Mendut. Keberadaan sekolah ini pernah disebutkan oleh Groneman dalam bukunya berjudul Ruins of Buddhistic Temples in Progo Valley yang diterbitkan pada tahun 1912. Sejarah pendirian sekolah Katolik putri di Mendut merupakan inisiatif dari misi Jesuit di Jawa yang dilakukan oleh Rm. Petrus Hoevenaars SJ dan Rm. G.J.M. van Lith SJ. makam tertua bernisan tahun 1905 yang merupakan makam Romo Pioe Monoriae, yang kemungkinan didasarkan oleh penyebutan masyarakat sekitar terhadap makam Romo Schraeders.

Situs Kerkhoff Mendut
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Relief Cerita

Sejarah menyebutkan Candi Borobudur kaya dengan ukiran relief cerita yang terpahat didinding. Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan.

Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.

Menengok kehidupan masyarakat Jawa Kuno, dalam budaya pertanian dan pengolahan makanan dan minuman. Atribut lansekap pedesaan Jawa Kuno meliputi beberapa cakupan yang lebih kepada daerah tempat berada pada lingkungan pertanian / pengelolaan lahan. Pada candi Borobudur terdapat panil relief cerita mengenai relief pertanian. Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi lingkungan persawahan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah tadah hujan, Ladang / tegalan, Kebun dan Hutan.

Lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa lingkungan sawah dijelaskan dalam pengelolaanya bahwa - Sawah oleh masyarakat Jawa Kuna abad IX-X Masehi, tidak hanya dikelola untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk kebutuhan menghidupi sebuah bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Penetapan sawah tersebut sebagai sima adalah karena, sawah mampu memberi kehidupan dan pendapatan kepada suatu daerah.

Makanan pokok masa Jawa Kuno disebutkan dalam lingkungan pertanian pada masa itu lebih pada pengolahan padi, sebagai bahan makanan pokok. Pada saat itu masyarakat Jawa Kuna abad IX-X M telah mengenal cara-cara mengolah beras menjadi nasi, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang diliwet dengan periuk, dyun adalah belanga atau kuali besar (periuk) yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak sayur atau menanak nasi.

Dalam Prasasti Jawa Kuno berangka tahun antara 902 dan 903 Masehi, disebutkan bagaimana menggunakan alas untuk makan nasi tim dengan lauk asin-asin dan dendeng kakap. Dalam pengolahan makanan dan pembuatan minuman pada masa Jawa Kuno telah mengenal pengolahan makanan dalam  beberapa bentuk. Pengolahan makanan seperti pada olahan Dodol. Dodol adalah salah satu jenis makanan yang dikenal oleh masyarakat Jawa Kuna abad IX-X M, beberapa macam olahan adalah yang disebut dwa-dwal atau dodol. Olahan makanan ini disebutkan dalam Ramayana Jawa Kuna, menurut penjelasan Poerbatjaraka.

Dalam pengolahan minuman, di contohkan yaitu pengolahan tanaman tebu yang oleh masyarakat Jawa Kuna juga dikenal sebagai bahan dasar untuk minuman beralkohol yang disebut tvak, siddhÅ«. SiddhÅ« atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada upacara penetapan sima, antara lain disebut dalam Prasasti Sangguran tahun 928 M. Prasasti Sangsang tahun 907 Masehi menyebutkan isi arti dari prasasti tersebut bahwa semua orang dapat menikmati acara yang ditampilkan dengan suka cita.

Penggambaran relief pada sisi kanan adalah orang-orang yang beramai-ramai mendirikan bangunan dari kayu. Ada yang membawa pasir, menaiki tangga, memikul barang, dan memotong kayu. Berdasarkan data prasasti, orang yang berprofesi membuat bangunan, di antaranya, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang.

Relief Candi Borobudur dengan alat interpretasi yang berupa prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam sebagai berikut: 1. Rekonstruksi Proses Budaya, 2. Rekonstruksi Sejarah Budaya, 3. Rekonstruksi Cara Hidup  (Savah, Kbuan, Tgal, Gaga, Renek). Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daetah sebagai berikut: gunung dan bukit, Lingkungan pertanian, Permukiman dan rumah tradisional, Pembuatan tembikar, dan Bekas danau purba.

Berada di Borobudur

Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Chandi Borobudur
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur
Berasal dari kata 'biara - bedudur' kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Selamat Datang di Borobudur
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

No comments:

Post a Comment

BOROBUDUR MERUPAKAN PUNCAK KEBUDAYAAN JAWA KUNO

S elamat datang di Kebudayaan Borobudur, salah satu cagar budaya bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan da...