Selamat datang, senang sekali perjalanan mengunjungi kemegahan dan keindahan Borobudur tujuan wisata utama di Indonesia. Bangunan ini telah menjadi bagian dari situs warisan dunia sejak tahun 1991. Pemandu wisata yang ramah pada kesempatan ini akan menemani Anda dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai apresiasi mempelajari dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur.
Chandi Borobudur dan kawasannya merupakan situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata tertuju pada kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai destinasi utama dan kunjungan wisata super prioritas. Dibukanya kembali monumen untuk pariwisata ini menjadi kesempatan menyenangkan untuk menggali beberapa sumber narasi tentang keberadaan bangunan ini di wisata tematik Borobudur.
Wisata dan kunjungan yang ada dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, yang merupakan bentuk apresiasi dalam mempelajari dan ikut serta dalam mengenali, menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia yang ada. di Borobudur, Indonesia.
Keramahan pemandu wisata pada kesempatan kali ini akan menemani Anda dengan memberikan narasi dan penjelasan sebagai apresiasi belajar dan mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur. Ini adalah kesempatan menyenangkan untuk mengeksplorasi budaya leluhur Indonesia, dalam narasi wisata sejarah sambil belajar tentang arsitektur dan budaya Borobudur.
![]() Sejarah Kebudayaan Chandi Borobudur. |
| Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Berada di Borobudur
Selamat datang di Borobudur atau namanya disebut-sebut Barabudur, candi suci umat Buddha. Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat untuk pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.
Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
Candi Borobudur |
| Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.
Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut sejarah, chandi Borobudur ditinggalkan dan tertimbun tanah selama beberapa abad. Borobudur mulai mendapat perhatian, dan ditemukan kembali pertama kali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Inggris atas Jawa. Sejarah menyebutkan keberadaan awal mula pembangunan candi Borobudur sebagai bangunan suci umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan, pemujaan dan prosesi keagamaan dengan tujuan bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai tingkat tertinggi adalah nirwana.
Kebudayaan Borobudur adalah candi Borobudur dengan arsitektur piramida berundak, candi Buddha stupa yang dibangun sebagai bangunan suci para penganut agama Buddha Mahayana, sekitar tahun 800 Masehi pada masa pemerintahan Samaratungga dari wangsa Syailendra.
![]() |
Arca Buddha didalam stupa terbuka teras Arupadhatu. Dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma). Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Candi Borobudur
Candi Borobudur sebagai bangunan yang berlatar belakang agama Buddha mempunyai banyak keindahan, keunikan dan serta kecantikan seni rupa yang luar biasa. Sebagaimana disebutkan keindahan bentuk kebudayaan monumen mempunyai gaya arsitektur seni rupa piramida berundak yang banyak disebut sebagai bangunan punden berundak nenek moyang Indonesia, arsitektur bentuk stupa dan dipadu dengan seni ukir pahatan relif di dinding bangunan suci candi.
Bangunan candi Borobudur dengan keunikan bentuk arsitektur yang terdiri dari teras - teras, berjumlah enam teras bujur sangkar dan pada bagian atas terdapat tiga pelataran dengan bentuk lingkaran, pada bagian puncak terdapat stupa besar sebagai mahkota yang dikelilingi oleh 72 stupa berlubang, sedangkan pada dindingnya dihiasi dengan pahatan ukiran batu yang indah dengan jumlah 2.672 panil relief dan bangunan ini mempunyai 504 arca Buddha.
Keberadaan candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha dalam pembangunannya dibutuhkan waktu kurang lebih 100 tahun, yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga, dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M, antara tahun 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kemaharajaan Sriwijaya.
Dokumen tertulis bagaimana tentang awal mula pembangunan Chandi Borobudur, referensi tentang siapa yang membangunnya, dan untuk apa tujuan yang dimaksudkan. Namun, seperti yang tertera dalam beberapa prasasti atau tulisan yang dipahatkan di batu tulis dan di atas relief pada 'kaki tersembunyi' monumen chandi Borobudur memiliki fitur grafis yang mirip dengan yang ada dalam naskah atau dalam bentuk tulisan yang biasa digunakan dalam prasasti kerajaan antara abad kedelapan dan abad kesembilan.
Kesimpulan yang jelas adalah bahwa Chandi Borobudur sangat mungkin didirikan sekitar tahun 800 M. Anggapan ini cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Pada kurun waktu antara tahun 750 - 850 disebutkan adalah Zaman Keemasan dinasti Syailendra. Hal ini menghasilkan banyak sejumlah besar monumen, yang ditemukan hampir di seluruh dataran dan lereng gunung Siva mendominasi di daerah pegunungan; daerah di dataran Kedu dan Prambanan, baik itu monumen Siwa dan Budha didirikan berdekatan.
Nama Syailendra pertama kali muncul dalam prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di daerah pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak bertanggal, tetapi berdasarkan paleografis prasasti tersebut dapat dianggap berasal dari pertengahan abad ketujuh. Prasasti tertua, tidak hanya ditemukan di Jawa Tengah saja, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti yang ditemukan dalam prasasti Canggal, dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 732 M. Disebutkan prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih sekitar 10 km sebelah timur Chandi Borobudur.
Nama Sanjaya kemudian muncul sekali lagi dalam prasasti Mantyasih berangka tahun 907 M, ditemukan kurang lebih sekitar 15 km sebelah utara Chandi Borobudur, prasasti Mantyasih hanya berisi daftar tentang raja-raja sebelum Raja Balitung yang memerintah (yang mengeluarkan prasasti). Prasasti tersebut yang berisi daftar raja - raja yang memerintah, secara eksplisit dianggap berasal dari dinasti Syailendra, hal ini sebenarnya masih diragukan, bahwa Rakai Panangkaran sebenarnya adalah raja Syailendra yang membangun candi Tara di desa Kalasan. Wangsa Syailendra dikenal sebagai pengikut setia aliran Buddha, tetapi wangsa Syailendra dalam prasasti Sojomerto disebutkan adalah beraliran Hindu. Dalam prasasti Mantyasih juga disebutkan beragama Hindu.
Oleh karena itu dapat dijelaskan bahwa raja-raja yang disebutkan didalam prasasti tersebut semuanya adalah pemeluk agama Hindu. Menurut teori ini, Rakai Panangkaran adalah seorang raja dari wangsa Sanjaya yang berperan dalam pendirian kuil atau candi Budha Kalasan, sebenarnya hanyalah untuk memberikan sebidang tanah yang diperlukan dalam pembangunan candi; belum tentu seorang yang beragama Budha. Dalam hal ini agama tidak menjadi perbedaan dan konflik serius di Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin bisa saja bagi seorang raja Hindu berperan dan mendukung pendirian bangunan candi Budha, atau bagi seorang raja yang beragama Budha untuk melakukan hal yang sama sebaliknya.
Anggapan tentang hanya satu dinasti kerajaan, yang memerintah Jawa Tengah kala itu dari mulai abad kedelapan hingga awal abad kesepuluh secara langsung telah menghilangkan anggapan yang terkait mengenai asal usul wangsa Sailendra dan seberapa luas wilayah kekuasaan kerajaan itu di Jawa Tengah. Karena Laut Jawa merupakan jalur termudah menuju ke Jawa Tengah, yang mungkin diharapkan untuk dapat menetap dan berperan aktif di wilayah utara. Namun, ini sulit untuk dipastikan dengan fakta bahwa wangsa Sailendra muncul dalam sejarah berada di bagian selatan Jawa Tengah, sedangkan wangsa Sanjaya sebelumnya sebenarnya menguasai dan memiliki wilayah lebih jauh ke utara.
Peran yang dimainkan oleh orang-orang Indonesia dalam proses ini tampaknya tidak hanya terbatas pada mengadopsi dan mencerna unsur-unsur budaya India, akan tetapi juga melibatkan kebudayaan aslinya. Asumsi hubungan yang terus menerus, atau setidaknya teratur, akan dapat membantu menjelaskan munculnya kerajaan tertua di berbagai bagian wilayah.
Namun, keterlibatan leluhur pribumi dalam silsilah raja yang memerintah, yang mengeluarkan dekrit, hanya dapat dianggap sebagai hal mencerminkan transisi kekuasaan yang mulus; karena tidak dapat dibayangkan bahwa kerajaan - kerajaan ini dapat muncul tanpa periode akulturasi yang cukup lama sebelumnya. Kenyataannya, dekrit - dekrit itu, yang disusun dalam bahasa Sanskerta yang sempurna, tidak akan masuk akal bagi orang - orang yang dituju kecuali jika mereka sudah dapat menghargai bahasa yang cukup asing ini, yang sekarang digunakan dalam dokumen-dokumen resmi.
Sejarah paling awal Indonesia ditandai dengan kebangkitan mendadak, dan akhir yang tiba - tiba, dari kerajaan-kerajaan tertua. Kerajaan Kutai di Kalimantan (abad kelima) dan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (abad kelima), masing - masing memiliki dekrit kerajaan, yang dikeluarkan oleh satu raja. Keberadaan kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur diketahui dari satu dokumen, Prasasti Dinoyo tahun 760 M. Aliran dokumen tertulis yang kurang lebih berkelanjutan tersedia di Jawa Tengah, dimulai dengan prasasti Changgal tahun 732 M dan diakhiri dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada awal abad kesepuluh.
Dari pertengahan abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 dikenal sebagai periode Jawa Timur. Meskipun Sumatera dan Bali juga berkontribusi dalam pembuatan sejarah Indonesia, sebagian besar peristiwanya adalah dokumenter tercantum dalam prasasti dan manuskrip Jawa Timur. Bangunan juga terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga Jawa Tengah dan Jawa Timur telah menjadi istilah yang diterima dalam berurusan dengan monumen dan patung dalam sastra.
Prasasti Borobudur
Berdasarkan prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan tertulis bahwa "Bhumi Sambhara Budhalra" dan "Kamulan" adalah bangunan candi Borobudur yang dibangun antara tahun 760 dan 830 M, pada masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah yang dipengaruhi oleh Kerajaan Sriwijaya. Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu 75 - 100 tahun yang di selesaikan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 M. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana, melalui temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mungkin awalnya beragama Hindu Siwa.
Pada kurun waktu itu dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja yang beragama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan Gunung Wukir. Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi yang ada di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan selesai sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan candi Siwa Prambanan tahun 850 Masehi.
Pembangunan candi Buddha, termasuk Borobudur pada saat itu dimungkinkan karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran telah memberikan izin kepada umat Buddha untuk membangun candi untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk tujuan memuliakan Bodhisattwadewi Tara, yang disebutkan dalam Prasasti Kalasan tahun 778 Masehi.
Hal ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menjadi konflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua wangsa kerajaan pada masa itu yaitu wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan wangsa Sanjaya yang memuja Siwa yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.
Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra, akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.
Lingkungan Borobudur
Bangunan suci candi-candi Buddha, monumen keagamaan yang terletak di dataran Kedu didirikan di sekitar monumen candi Borobudur. Tempat-tempat suci Hindu dan Buddha, bisa dikatakan, dikemas bersama dalam radius kurang dari tiga kilometer dari titik pertemuan dua sungai Kedu. Dari barat ke timur, monumen Buddha utama di daerah ini adalah Chandi Borobudur, Chandi Pawon, Chandi Mendut, dan kompleks Chandi Ngawen yang terdiri dari lima bangunan. Tiga cagar alam pertama diasumsikan telah membentuk satu kompleks juga, meskipun berdiri pada jarak yang cukup jauh antara satu sama lain, garis lurus yang ditarik dari Chandi Borobudur ke Chandi Mendut melalui Chandi Pawon menunjukkan kesatuan tiga candi serangkai. Tata letak seperti ini, bagaimanapun, tidak ditemukan di Borobudur.
Chandi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Chandi Borobudur, sedangkan Chandi Pawon berjarak sekitar setengahnya. Menurut tradisi lisan, tiga serangkai itu pernah dihubungkan oleh jalur prosesi beraspal, diapit oleh langkan yang didekorasi dengan indah. Beberapa batu pahat yang ditemukan di ladang sebelah timur desa Borobudur beberapa dekade yang lalu diduga merupakan sisa-sisa trotoar. Komposisi triad yang luar biasa telah menyebabkan banyak spekulasi tentang hubungan antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut.
![]() |
Koridor imajiner jalan penghubung tiga candi untuk prosesi, antara Chandi Borobudur, Chandi Pawon dan Chandi Mendut. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Chandi Borobudur tidak memiliki ruang dalam, tidak ada tempat di mana umat bisa beribadah. Kemungkinan besar itu adalah tempat ziarah, di mana umat Buddha dapat mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual. Dipandu dan dipandu oleh relief naratif, peziarah berjalan dari satu teras ke teras lain dalam kontemplasi hening. Chandi Mendut, di sisi lain, tampaknya menjadi tempat pemujaan. Chandi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan.
Asumsi bahwa peziarah harus melewati Chandi Pawon dalam perjalanannya dari Chandi Mendut ke Chandi Borobudur di sepanjang jalur prosesi beraspal mungkin menunjukkan bahwa Chandi Pawon adalah semacam pusat dalam suatu perjalanan panjang; Setelah disucikan melalui upacara-upacara ibadah wajib di Chandi Mendut, Chandi Pawon mempersilahkannya untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum melanjutkan perjalanan ziarah ke Chandi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan telah menanti.
Ilustrasi Danau Borobudur, genangan air disebelah barat laut. |
Arsitektur Borobudur menyerupai seni bentuk bunga teratai dan postur Buddha yang melambangkan Sutra Teratai didalam naskah keagamaan Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Tidak seperti candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m diatas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau purba yang telah mengering. Keberadaan danau purba ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan arkeolog pada abad ke-20, dan menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di tepi atau bahkan di tengah danau. Kepercayaan populer tentang adanya jalur prosesi tidak sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1931, bahwa dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau besar. Dia mengemukakan bahwa Chandi Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau, teratai mitos dari mana Buddha masa depan akan lahir. Ide ini didasarkan pada penemuannya bahwa bentuk dan denah monumen menggambarkan roset teratai dan kelopak bunga di sekitar petak bunga melingkar, sementara posisinya di atas bukit, sehingga menunjukkan bentuk teratai mengambang di udara.
Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Bunga teratai baik dalam bentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), ataupun kumuda (teratai putih) dapat ditemukan dalam semua ikonografi seni keagamaan Buddha. Seringkali digenggam oleh Bodhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Buddha atau sebagai lapik stupa. Ragam hias baik yang dekoratif ataupun cerita yang terpahat pada arsitektur candi bukan dipahat tanpa alasan, masing-masing komponen memiliki karakter dengan fungsi yang berbeda namun terangkai dalam menggambarkan jalan menuju kebuddhaan, pencerahan, dan pembebasan samsara.
![]() Ilustrasi bagian selatan adalah Danau Borobudur. |
Bentuk arsitektur Borobudur menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang banyak ditemui dalam naskah agama Buddha mahzab Mahayana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Bentuk arsitektur Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Buddha di Borobudur melambangkan Sutra Teratai yang kebanyakan ditemui dalam naskah keagamaan Buddha mahzab Mahayana, yaitu aliran Buddha yang menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar yang ada di puncak Borobudur juga diduga melambangkan kelopak bunga teratai. Dalam hal ini teori Nieuwenkamp terdengar begitu luar biasa dan fantastis, tetapi banyak menuai bantahan dari para arkeolog.
Pada daratan di sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologi yang membuktikan bahwa daerah kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini adalah daratan kering, bukan dasar danau kuno. Sementara itu pakar geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk sari yang dilakukan tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, yang memperkuat gagasan Nieuwenkamp.
![]() Stupa-stupa teras Arupadhatu. |
Stupa utama terbesar, terletak ditengah, memahkotai bangunan, dan dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha yang duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma). Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Penemuan Borobudur
Tidak diketahui secara pasti berapa lama Chandi Borobudur digunakan, atau kapan berhenti berfungsi sebagai monumen untuk memuliakan kebesaran dinasti kerajaan yang berkuasa dan, pada saat yang sama, sebagai pusat ziarah agama Buddha.
![]() Borobudur tertutup lapisan tanah. |
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto Screenshot arisguide. |
Asumsi umum adalah bahwa chandi Borobudur tidak digunakan lagi pada saat masyarakat mulai masuk Islam pada abad kelima belas. Tetapi hal ini sangatah masuk akal bahwa monumen-monumen di Jawa Tengah telah ditinggalkan pada awal abad ke-10 ketika kepentingan sejarah bergeser ke Jawa Timur. Jika demikian, Chandi Borobudur dibiarkan nasibnya beberapa abad lebih awal dari Monumen Jawa Timur. Terlepas dari waktu yang tepat di mana chandi kehilangan signifikansinya dalam masyarakat yang berubah, mereka harus ditemukan kembali satu per satu sebelum pengetahuan kita saat ini tentang mereka mulai terakumulasi. Tapi mereka tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan orang-orang.
Dalam beberapa hal, masa lalu yang gemilang dan monumen-monumen yang menyaksikannya dikenang, dan terutama oleh penduduk desa yang tinggal di dekatnya. Chandi masih berperan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perubahan kepercayaan tentu saja menyebabkan perubahan bertahap dalam sikap mereka terhadap monumen, terbukti dari cara orang mengabaikannya.
Namun, ketidakpedulian bukanlah penjelasan utama. Sebuah kepercayaan takhayul secara bertahap menghubungkan reruntuhan yang tidak jelas dengan nasib buruk dan kesengsaraan. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Pulau Jawa), disebutkan kemalangan dan kesialan menimpa akibat melawan raja Mataram pada tahun 1709 M. Menurut Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram) menceritakan nasib buruk pada tahun 1757, terlepas dari pembatasan yang berlaku untuk mengunjungi Chandi Borobudur, yang berhubungan dengan misteri dan takhayul. Baru pada tahun 1814 Chandi Borobudur muncul, secara nyata dan kiasan, dari masa lalunya yang kelam.
![]() Borobudur teras Arupadhatu sebelum dipugar. |
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Antara 1811 dan 1816 Jawa berada di bawah kekuasaan Inggris. Wakil Pemerintah Inggris adalah Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles, yang sangat tertarik dengan masa lalu Jawa. Pada tahun 1814, dalam sebuah perjalanan inspeksi di Semarang, ia diberitahu tentang keberadaan sebuah monumen besar, yang disebut Chandi Borobudur, di desa Bumisegoro dekat Magelang. Dia tidak bisa datang dan mengirim Cornelius, seorang perwira insinyur Belanda yang mempumyai keahlian berpengalaman dalam menjelajahi barang antik di Jawa, untuk menyelidiki. Cornelius mempekerjakan sekitar 200 orang untuk membersihkan dengan menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah di mana lokasi monumen itu dibangun yang sudah lama terkubur. Dalam dua bulan ia telah menyelesaikan pekerjaannya, meski banyak beberapa bagian dinding galeri yang belum bisa digali karena bahaya runtuh. Dia melengkapi laporannya dengan berbagai gambar.
Dua jilid History of Java-nya yang terbit pada tahun 1817 hanya mencurahkan beberapa kalimat untuk monumen itu. Bab tentang barang antik sangat singkat, karena ia bermaksud untuk menerbitkan secara terpisah 'Account of the Antiquities of Java'. Ini sebenarnya tidak pernah muncul. Namun, Raffles tetap sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan Chandi Borobudur dari pelupaan, dan telah membuatnya diketahui oleh banyak orang.
Administrator Belanda di wilayah Kedu, Hartmann tertentu, adalah salah satu penguasa yang memberi perhatian khusus pada Chandi Borobudur. Dia mengatur pemindahan lebih lanjut dari puing-puing dan pembersihan galeri, sehingga, pada tahun 1835, seluruh monumen dibebaskan dari penutup terakhirnya yang rusak. Sangat disayangkan Hartmann tidak menulis laporan tentang kegiatannya, sehingga apa yang diketahui tentang mereka hanya dapat diperoleh dari laporan selanjutnya. Sangat disesalkan bahwa cerita tentang dugaan penemuan batu Buddha di stupa utama telah menyebabkan perselisihan tanpa akhir.
Pada tahun 1842 Hartmann melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap interior kubah besar. Apa yang sebenarnya dia temukan tidak diketahui, tetapi laporan Wilsen tahun 1853 menyebutkan seorang Buddha seukuran salah satu dari ratusan patung Borobudur lainnya. Tidak ada patung seperti itu yang pernah disebutkan oleh para penyelidik sebelum tahun 1842. Cerita beredar bahwa patung itu ditempatkan di sana oleh pejabat distrik asli untuk memuaskan administrator Belanda. Hartmann tertarik pada Chandi Borobudur secara pribadi daripada sebagai pejabat pemerintah, tetapi Wilsen adalah seorang perwira insinyur yang dikirim secara resmi oleh Pemerintah untuk membuat gambar. detail arsitektur dan reliefnya.
Sementara itu Pemerintah menunjuk Brumund untuk membuat deskripsi rinci, yang diselesaikannya pada tahun 1856. Brumund mengira penelitiannya akan diterbitkan dan dilengkapi dengan gambar-gambar Wilsen. Pemerintah bermaksud agar publikasi resmi didasarkan pada artikel dan gambar Wilsen, dengan studi Brumund sebagai suplemen. Pemerintah kemudian harus menunjuk sarjana lain dan memilih Leemans yang, pada tahun 1859, diminta untuk menggunakan manuskrip Wilsen dan Brumund dan menyusun monografi yang akan dilengkapi dengan gambar Wilsen. Tetapi ketika monografi itu akhirnya muncul di media cetak pada tahun 1873 (diikuti dengan terjemahan bahasa Prancis pada tahun 1874), semua bahan yang tersedia di Candi Borobudur telah tersedia untuk umum. Informasi diberikan pada setiap detail monumen, dan Chandi Borobudur tidak akan pernah lagi terlupakan.
Nama Borobudur
Monumen-monumen yang berasal dari periode kuno sejarah Indonesia biasanya disebut chandi, terlepas dari apa tujuan awalnya. Monumen tersebut tidak hanya mencakup bangunan candi, tetapi juga hal-hal seperti gerbang dan tempat mandi.
Dalam penjelasan kebanyakan chandi nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa-desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaan mereka. Banyak dari warisan budaya ini harus ditemukan kembali. Tidak heran jika chandis hanya disebut desa terdekat. Beberapa, bagaimanapun, telah mempertahankan nama mereka; dalam kasus seperti itu desa ini dinamai menurut nama chandi. Sangat sulit untuk mengetahui apakah Chandi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.
Dalam kronik Jawa abad kedelapan belas disebutkan tentang sebuah bukit yang disebut Borobudur. Sir Thomas Stamford Raffles 'penemu Borobudur', diceritakan pada tahun 1814 tentang keberadaan sebuah monumen bernama Borobudur di desa Bumisegoro. Oleh karena itu, Borobudur tampaknya, bagaimanapun juga, adalah nama aslinya. Tetapi belum ada dokumen kuno yang ditemukan yang memuat nama ini.
Sebuah manuskrip Jawa Kuno tahun 1365 M, yang disebut Nagarakrtagama dan disusun oleh Mpu Prapancha, menyebutkan 'Budur' sebagai tempat suci Buddha dari sekte Vajradhara. Bukan tidak mungkin 'Budur' ini diasosiasikan dengan Borobudur, tetapi kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi yang pasti sulit. Sebuah desa di sekitarnya masih menyandang nama 'Bore' - mungkin melestarikan bagian pertama dari nama aslinya dari monumen.
Nama kata 'Boro-Budur' sulit dijelaskan. Menganggapnya sebagai 'tempat suci Budur di desa Boro' akan bertentangan dengan aturan bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-kata itu sebaliknya (Budur Boro, bukan Boro Budur). Raffles menyarankan bahwa 'Budur' mungkin sesuai dengan kata tersebut. kata Jawa modern 'Buda' (kuno); Borobudur dengan demikian berarti 'Boro kuno'. Dia juga mengajukan hipotesis lain: Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Buddha', yaitu monumen itu hanya disebut setelah Buddha Agung. Sebenarnya, 'boro' seharusnya lebih berarti 'terhormat', yang berasal dari bahasa Jawa Kuno 'bhara', sebuah awalan kehormatan, sehingga 'tempat suci Buddha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili Kata Lama Kata Jawa 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', menunjukkan jamak), sehingga interpretasi 'Borobudur' sebagai tempat suci 'Banyak Buddha memiliki klaim yang sama.
Keberatan utama terhadap interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno' tidak relevan, dan 'Buddha Agung', 'Buddha yang Terhormat' dan 'Banyak Buddha' tidak memberikan penjelasan tentang perubahan 'Buddha' menjadi 'Budur'. Memang, tidak ada cara untuk membenarkannya. Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh almarhum Poerbatjaraka. Dia berasumsi bahwa kata 'boro' adalah singkatan dari 'biara', yang berarti 'biara'. Borobudur kemudian akan berarti 'Vihara Budur'. Memang, fondasi biara digali selama penggalian arkeologi yang dilakukan di dataran tinggi sebelah barat monumen pada tahun 1952. Seperti nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, interpretasi Poerbatjaraka mungkin tepat. Tetapi jika demikian, bagaimana biara itu berdiri sebagai monumen di benak orang-orang.
Semua penjelasan di atas didasarkan pada interpretasi kata-kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis mencoba menelusuri kedua kata itu kembali ke asal usulnya. Dia menunjukkan bahwa nama 'Bhumisambharabhudhara', yang menunjukkan tempat suci untuk pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 M. Setelah analisis menyeluruh dari aspek keagamaan dan rekonstruksi rinci geografi daerah di mana peristiwa sejarah terjadi. , ia menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak bisa lain dari Borobudur itu, dan bahwa perubahan nama yang sekarang terjadi melalui penyederhanaan normal yang terjadi dalam bahasa lisan.
Meskipun banyak ahli sejarah keberatan dengan penjelasan De Casparis, belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens menyarankan, bahwa pada analogi Bharasiwa India Selatan, yang menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva - monumen kami dikaitkan dengan 'Bharabuddha' atau penegak Buddha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' kemudian akan menjadi kontraksi dari 'Bharabuddha' dengan kata Tamil ur untuk 'kota' ditambahkan, sehingga berarti 'Kota para penegak Buddha'. Namun, 'Bharabuddha' hanyalah rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan dokumenter atau bukti, dan teori Moens belum diterima secara umum.
Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan kuno disebut candi. Istilah candi juga banyak digunakan untuk menyebut semua bangunan kuno yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, seperti gapura dan petirtaan (kolam dan pancuran).
Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku 'Sejarah Pulau Jawa' karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis tentang sebuah monumen bernama Borobudur, tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya teks Jawa kuno yang memberi petunjuk tentang keberadaan bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk pada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.
![]() |
Candi Borobudur dibangun diatas bukit. Pemandangan alami dari Bukit Dagi sebelah barat laut di pagi hari dengan latar belakang perbukitan menoreh. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
nama Borobudur berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa sansekerta berarti “candi”. Kata "beduhur" berarti "tinggi", dalam bahasa Bali.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore ( Boro ), kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".
Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.
Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G.de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga kurang lebih sekitar tahun 824 M. Bangunan itu diselesaikan pada masa putrinya, yaitu Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.
Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Sri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan, bangunan suci yang disebut Bhumisambhara. Istilah nama Kamulan berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan para leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhumi Sambhara Bhudhara dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli dari Borobudur.
Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut. Stupa dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad abad bangunan suci ini sempat terlupakan. Borobudur di tengah kehijauan alam dataran Kedu. Diduga dulu kawasan di sekeliling Borobudur adalah danau purba.
Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit. Borobudur adalah Candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
Borobudur, artinya candi atau biara di atas bukit. Candi Budha Mahayana terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras bujur sangkar dan tiga teras lingkaran, serta terdapat stupa terbesar berada ditengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha.
Candi Borobudur dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep Buddha untuk mencapai Nirvana.
Lansekap Pedesaan Borobudur
Masyarakat di Borobudur Lansekap Pedesaan Jawa Kuno. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide. |
Menjelaskan relief-relief dengan arti dan makna yang ada di Candi Borobudur yang berhubungan dengan apa yang dijelaskan dalam bentuk yang berupa prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam beberapa hal yaitu meliputi rekonstruksi proses budaya, rekonstruksi sejarah budaya, dan rekonstruksi cara hidup dalam tempat savah, kbuan, tgal, gaga, renek. Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daerah-daerah seperti gunung dan bukit, lingkungan pertanian, permukiman dan rumah tradisional, pembuatan tembikar, dan bekas danau purba.
Relief Candi Borobudur dengan alat interpretasi yang berupa prasasti dan naskah kesusastraan pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam sebagai berikut: 1. Rekonstruksi Proses Budaya, 2. Rekonstruksi Sejarah Budaya, 3. Rekonstruksi Cara Hidup (Savah, Kbuan, Tgal, Gaga, Renek). Lansekap pedesaan pada masa Jawa Kuno Borobudur mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi daetah sebagai berikut: Gunung dan bukit, Lingkungan pertanian, Permukiman dan rumah tradisional, Pembuatan tembikar, dan Bekas danau purba.
Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.
Lansekap Pedesaan Jawa Kuno
Mempunyai atribut lansekap pedesaan Jawa Kuno meliputi beberapa cakupan yang lebih kepada daerah tempat berada pada lingkungan pertanian / pengelolaan lahan. Pada candi Borobudur terdapat panil relief cerita mengenai relief pertanian, pada dinding Candi Borobudur.
| Salah satu relief Borobudur Panil relief cerita mengenai relief pertanian pada Candi Borobudur, juga terdapat pada Kaki candi yang tertutup. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. |
Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi lingkungan persawahan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah tadah hujan, Ladang / tegalan, Kebun dan Hutan. Dalam lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa lingkungan sawah dijelaskan dalam pengelolaanya bahwa menyebutkan sawah oleh masyarakat Jawa Kuna pada abad IX-X M tidak hanya dikelola untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk kebutuhan menghidupi suatu bangunan suci yang ditetapkan sebagai sima. Penetapan sawah tersebut sebagai sima adalah karena, sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan kepada suatu daerah.
Menjelaskan makanan pokok pada masa Jawa Kuno disebutkan dalam lingkungan pertanian pada masa itu lebih pada pengolahan padi sebagai bahan makanan pokok. Pada saat itu masyarakat Jawa Kuna abad IX-X M telah mengenal cara-cara mengolah beras menjadi nasi, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang diliwet dengan periuk, dyun adalah belanga atau kuali besar (periuk) yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak sayur atau menanak nasi.
Relief Karmawibhangga dalam mengolah makanan. Skul matiman adalah nasi yang dimasak dengan cara di-tim (nasi tim). Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Dalam pengolahan makanan dan pembuatan minuman pada masa Jawa Kuno meliputi beberapa bentuk. Pengolahan makanan seperti pada olahan Dodol. Dodol adalah salah satu jenis makanan yang dikenal oleh masyarakat Jawa Kuna abad IX-X M, beberapa macam olahan adalah yang disebut dwa-dwal atau dodol. Olahan makanan ini disebutkan dalam Ramayana Jawa Kuna menurut penjelasan Poerbatjaraka.
Dalam pengolahan minuman, di contohkan yaitu pengolahan tanaman tebu yang oleh masyarakat Jawa Kuna juga dikenal sebagai bahan dasar untuk minuman beralkohol yang disebut tvak, siddhū. Siddhū atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada upacara penetapan sima, antara lain disebut dalam Prasasti Sangguran tahun 928 M.
RUMAH PEDESAAN JAWA KUNO
Rumah pedesaan Jawa Kuno. Mendirikan bangunan rumah pedesaan dengan bahan dari kayu. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Penggambaran relief yang terpahat pada dinding Borobudur salah satunya adalah mendirikan bangunan rumah pedesaan dengan bahan dari kayu. Relif Karmawibhangga adalah yang menyimpan cerita pembangunan rumah pedesaan pada masa Jawa Kuno. Berdasarkan penjelasan dalam prasasti, orang yang berprofesi membuat bangunan, di antaranya, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang.
Desain rumah pedesaan Jawa Kuno. Mendirikan bangunan rumah dengan desain rumah Jawa Kuno. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Rumah-rumah pedesaan masyarakat Borobudur pada masa Jawa Kuno disebutkan dalam bentuk bangunan-bangunan yang berada pada tempat pemukiman masyarakat tradisional dan mempunyai bentuk rumah-rumah tradisional. Dengan kehidupan dalam lingkungan pemukiman masyarakat pembuat tembikar / gerabah.
Lingkungan masyarakat pedesaan Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Pemukiman masyarakat Borobudur pada masa Jawa Kuna, periode Mataram VII–X Masehi disebutkan dalam Prasasti Rukam berangka tahun 907 masehi. Menjelaskan secara umum aktifitas tradisional masyarakat Jawa Kuno adalah pekerjaan pembuatan tembikar / gerabah. Aktifitas ini diceritakan dalam relief yang dipahatkan didinding candi Borobudur.
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Selamat Datang di Bhumisambharabhudhara. Warisan Budaya Dunia UNESCO, chandi Buddha terbesar didunia. Sumber: foto arisguide, Guiding Technique Chandi Borobudur arisguide. |
Berada di Borobudur
Sejarah menyebutkan Chandi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.
![]() |
Kebudayaan Borobudur adalah candi Borobudur, berasal dari kata 'biara - bedudur' yang kemudian berubah menjadi Borobudur, candi Buddha Mahayana berbentuk piramida berundak yang bagian atas berbentuk stupa yang dibangun tahun 824 Masehi pada masa kejayaan pemerintahan wangsa Syailendra. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide. |
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.
Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam Barabudur atau Borobudur, Candi Buddha Pusaka Budaya Indonesia.
Menjelajahi dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam KEBUDAYAAN BOROBUDUR - BELAJAR DENGAN PEMANDU WISATA.
Membaca lebih menyenangkan jelajahi narasi tematik lebih detil dalam Selamat Datang di Kebudayaan Borobudur.
Membaca dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.













No comments:
Post a Comment